Wali Band: Kiprah Santri yang Menantang Industri Musik Nasional

Wali Band: Kiprah Santri yang Menantang Industri Musik Nasional

‘Ku akan menjagamu di bangun dan tidurmu

Di semua mimpi dan nyatamu

‘Ku akan menjagamu ‘tuk hidup dan matiku

‘Tak ingin, tak ‘ingin kau rapuh…

THINKWAY.IDHayo tau gak penggalan lagu di atas? Wah parah sih kalau gak tau, berarti lu bukan generasi MTV Ampuh, Inbox atau Dahsyat nih. Buat yang belum tau, penggalan lagu tadi itu berjudul “Dik” dari Wali Band. Kalau Wali Band pasti tau lah ya, band yang satu ini famous banget karena setiap album yang dikeluarin pasti hits.

Wali Band ini unik genks, band yang digawangi oleh 4 orang personil memiliki kesamaan latar belakang: sama-sama pernah jadi santri di pondok pesantren. Wali Band digawangi oleh Farhan Zainal Muttaqin (Faank) sebagai vokalis, Aan Kurnia (Apoy) sebagai gitaris, Ihsan Bustomi (Tomi) sebagai drummer, dan Hamzah Shopi (Ovie) sebagai keyboardist.

Santri bukannya cuma jago ngaji sama baca kitab kuning ya? Kehidupan di pesantren memang lekat dengan aktivitas keagaaman, tapi bukan berarti dari bangun tidur sampai tidur lagi kerjaannya ngaji doang. Santri diperbolehkan kok untuk main musik genks, gak beda jauh lah sama anak-anak sekolahan lainnya. Jadi jangan memandang santri sebelah mata ya genks.

Nah para personil Wali Band ini dari jaman nyantri memang sudah punya keterikatan dengan musik. Oh iya mereka ini bukan dari satu pesantren yang sama genks. Faank dan Apoy merupakan alumni pesantren La Tansa yang berada di daerah Lebak, Banten. Tomi adalah jebolan dari pesantren Al Fatah Muhajirun, Lampung. Lalu, Ovie adalah lulusan pesantren Al Hikmah Annajiyah, Bogor.

Setelah masa nyantri selesai, mereka dipertemukan di bangku kuliah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat. Sama-sama santri dan suka musik, akhirnya mereka memutuskan untuk membuat grup band pada 31 Oktober 1999. Grup band ini semula diberi nama Fiera. Waktu itu Fiera beranggotakan Faank sebagai vokalis, Tomi sebagai drummer, Endang sebagai bassist, Raden sebagai gitaris 2, dan Apoy sebagai gitaris 1.

Setelah terbentuk, Fiera aktif bermain band hingga pada tahun 2007, Endang dan Raden memutuskan untuk tidak aktif lagi bersama grup musik ini. Keluarnya kedua personel tersebut membuat band Fiera kekurangan orang. Selanjutnya, masuklah Ovie sebagai keyboardist untuk “menambal” kekurangan tersebut.

Perubahan personil ini menjadi era baru dengan turut mengganti nama band menjadi Wali Band. Perubahan nama tersebut dimaksudkan agar grup band ini lebih mudah diingat masyarakat. Wali Band sendiri mengambil genre musik lokal pop melayu dengan lagu-lagu seputar percintaan. Perjuangan merintis Wali Band akhirnya berbuah manis dengan berhasil masuk dunia rekaman melalui major label Nagaswara.

Wali Band merilis album pertama mereka “Orang Bilang” dengan single andalannya “Dik”. Single tersebut meledak di pasaran menjadi sangat populer dan bahkan menembus angka satu juta pengguna ring backtone (RBT).

Kesuksesan Wali Band tidak berhenti pada album pertama, mereka kemudian merilis album kedua “Cari Jodoh” yang juga menuai sukses besar. Lagu “Baik-Baik Sayang” dan “Cari Jodoh” bahkan digunakan oleh 8 juta orang sebagai RBT. Tidak hanya sukses di Indonesia, lagu-lagu tersebut kemudian dibuat dalam versi bahasa Inggris oleh musisi luar, Fabrizio Fanielfo, dan berhasil sukses di Eropa.

Setelah menuai sukses besar pada album pertama dan kedua, Wali Band banting setir menjadi band dengan lagu-lagu yang memuat pesan-pesan religius. Album mereka kemudian berisikan lagu-lagu yang memotret fenomena sosial dan diselipkan pesan-pesan religius di dalamnya. Hal ini justru membuat Wali Band menjadi berbeda dengan band-band lainnya.

Banting setir Wali Band menjadi band religi bukan serta-merta keinginan dari para personil band. Faank bercerita dalam podcast Melanie Subono bahwa Wali Band dari awal tidak pernah menyangka akan jadi band religi. Tiba-tiba masyarakat ramai melabeli wali band sebagai band religi. “Mungkin itu cara Tuhan buat nunjukin kita buat masuk lagi ke jalan yang benar,” Ujar Faank.

Lagu-lagu Wali Band mudah diterima oleh masyarakat karena liriknya yang sederhana namun relate dengan kehidupan, lalu nada dan warna musik pop melayu yang easy listening di kuping, serta video klip pada setiap lagu jauh dari kesan mewah dan lebay. Coba perhatikan setiap video klip Wali Band pasti terasa sangat merakyat dengan melibatkan banyak orang-orang biasa.

Group band Wali kini tidak lagi dipandang sebelah mata oleh penikmat musik di Indonesia. Kiprah mereka di industri musik Indonesia sangat luar biasa. Mereka pernah meraih pencapaian 81.262.693 download RBT, plus penjualan CD dan VCD dalam tiga album reguler, satu album religi, dan satu album the best-nya.

Hal itulah yang membuat Wali mendapat penghargaan tertinggi yang diberi nama Walinium. Hingga saat ini sudah tak terhitung lagi torehan prestasi yang sudah dicapai oleh Wali Band. Namun dengan segala pencapaian yang telah ditorehkan, mereka tetap tidak kehilangan identitas mereka sebagai sebagai santri yang tetap rendah hati.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.