THINKWAY.ID – Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) ada ribuan Industri Kecil Menengah (IKM) yang terdampak bencana Sumatera. dari tiga provinsi yang terdampak IKM Aceh berjumlah 1.960 unit mengalami imbas dari bencana itu.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan ada ribuan industri kecil menengah (IKM) yang terdampak bencana Sumatera. Mayoritas beroperasi di Provinsi Aceh. Agus mengungkapkan, berdasarkan data yang dihimpun per 23 Januari 2026, IKM terdampak di Aceh mencalai 1.960 unit. Jumlah ini menjadikannya yang paling banyak terdampak dari 3 provinsi imbas bencana Sumatera.
“Terdapat 2.826 industri kecil menengah yang terdampak bencana di tiga provinsi dengan konsentrasi terbesar di Provinsi Aceh 1.960 industri kecil menengah, Sumatera Barat 647 industri kecil menengah, dan Sumatera Utara 217 industri kecil menengah,” kata Agus dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR, Senin (26/1/2026).
Dia turut menguraikan sektor IKM yanh paling terdampak bencana banjir bandang di tiga provinsi tersebut. Sektor pangan, furnitur, dan bahan bangunan paling banyak terdampak dengan jumlah 1.706 unit.
Kemudian, sektor kimia, sandang, dan kerajinan mencapai 699 unit. Lalu, sektor logam, mesin, elektronika mencapai 408 unit. Serta, sektor aneka sebanyak 11 unit.
“Dan ini menegaskan bahwa dampak bencana paling besar terjadi pada sektor-sektor berbasis kebutuhan dasar dan aktivitas produksi lokal,” tegasnya.
Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berfokus untuk memanfaatkan anggaran dari rincian output (RO) khusus pada tahun 2026 dengan jumlah Rp 299,9 miliar.
Tujuannya untuk pelaksanaan agenda prioritas industri, pemulihan industri kecil terdampak bencana, dan partisipasi di Industrial International Exhibition (Pameran Industri Internasional) atau INNOPROM 2026.
“Seluruh penganggaran ini diarahkan untuk memastikan bahwa setiap Rupiah anggaran memberikan dampak nyata, mendukung program prioritas, serta memperkuat peran industri nasional sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang dalam pernyataannya dikutip dari Antara, Senin 26 Januari 2026.