THINKWAY.ID – Siapa yang tidak mengenal Tom Cruise? aktor Hollywood yang menjadi bintang utama waralaba Mission: Impossible ini membuat jantung asuransi ketar ketir saat sang aktor melakukan adegan tanpa menggunakan pemeran pengganti (stuntman). Bagi Tom Cruise kesenangan para penonton melihatnya terjun bebas dari tebin dengan motor atau bergelantungan di sisi pesawat saat lepas landas adalah hiburan wajib. Namun bagi perusaahan asuransi di Hollywood pemandangan itu adalah “film horo’ yang nyata.
Di usianya yang kini sudah menginjak 63 tahun, bintang utama waralaba Mission: Impossible ini bukannya memilih hidup tenang dan menikmati masa tua, malah makin jadi! Tom tetap teguh pada prinsipnya: haram pakai pemeran pengganti (stuntman).
Dedikasi gila ini ternyata membawa dampak besar di balik layar, terutama bagi mereka yang bertanggung jawab menjamin keselamatan produksi filmnya.
Kenapa perusahaan asuransi sampai ketar-ketir? Jawabannya sederhana: Uang dan Nyawa. Dalam industri film, jika seorang aktor utama mengalami cedera serius atau (amit-amit) meninggal dunia saat syuting, seluruh produksi film senilai ratusan juta dolar bisa berhenti total, demikian dilansir detik.com, Selasa (10/2).
Bayangkan beban pikiran pihak asuransi saat melihat Tom Cruise memutuskan untuk melakukan base jump berkali-kali hanya demi satu shot yang sempurna.
Satu kesalahan teknis kecil saja bukan cuma berarti kehilangan nyawa seorang legenda, tapi juga kerugian finansial yang bisa bikin perusahaan asuransi bangkrut seketika.
Bukan rahasia lagi kalau premi asuransi untuk film-film Tom Cruise adalah salah satu yang termahal di dunia. Pihak asuransi harus menghitung risiko dari setiap aksi nekat yang direncanakan Tom. Kabarnya, proses negosiasi antara tim produksi dan pihak penjamin asuransi sering kali berlangsung alot.
Sering terjadi momen di mana pihak asuransi melarang sebuah adegan dilakukan karena terlalu berbahaya, namun Tom yang juga bertindak sebagai produser biasanya selalu menemukan cara untuk tetap mengeksekusi aksi tersebut.
Ia bahkan pernah mengganti perusahaan asuransi jika mereka dianggap terlalu “penakut” untuk menjamin aksinya, seperti yang dilakukannya saat memanjat Burj Khalifa.

Hal itu diucapkan oleh CEO Skydance Production, David Ellison, dalam sebuah sesi wawancara bersama Collider.
“Kami ingin menggantung Tom di salah satu sisi gedung, tapi tidak bisa mendapatkan perusahaan asuransi (yang mau meng-cover), dan Tom ingin memecat perusahaan asuransi (yang sudah dia kontrak),” kata Ellison seraya tertawa.
Marc Federman, dari Epic Insurance Brokers & Consultants yang berbasis di San Francisco, telah bekerja di industri film selama beberapa dekade. Berbicara kepada Newsweek, dia menjelaskan bagaimana sebuah studio akan memberi nilai pada aktornya.
“Pasar asuransi film semakin ketat dengan rata-rata premi produksi film sekitar 3 persen dari anggaran film,” jelasnya.
“Termasuk dalam perkiraan 3 persen adalah biaya ‘asuransi pemain’ yang cakupannya mencakup biaya tambahan produksi yang timbul karena kecelakaan, sakit, atau kematian yang ditanggung.”
Tom Cruise benar-benar definisi nyata dari hidup di ambang risiko. Meskipun sudah sering mengalami cedera-seperti patah pergelangan kaki saat melompat antar gedung di film Mission: Impossible – Fallout-ia tidak pernah kapok.
Bagi Tom, rasa takut pihak asuransi adalah harga yang harus dibayar demi kepuasan penonton yang ingin melihat aksi asli, bukan sekadar polesan CGI (Computer Generated Imagery).
Jadi, lain kali kalau kamu melihat Tom Cruise melakukan aksi gila di bioskop, ingatlah bahwa di suatu tempat, ada seorang agen asuransi yang sedang berkeringat dingin sambil berdoa agar Tom mendarat dengan selamat!
Baca Juga: https://thinkway.id/menteri-luar-negeri-ri-hidup-ngontrak-tak-mampu-beli-rumah/
Baca Juga: https://thinkway.id/kiat-belajar-crypto-bagi-pemula-dengan-cuan-maksimal/