Potret

Inilah Kisah Petani Tembakau Jember, Bertahan di Tengah Cuaca Ekstrem

Ilustrasi Pekebunan Tembakau (unsplash.com)

THINKWAY.ID – Perubahan iklim, kemarau panjang hingga penyusutan lahan menjadi ancaman yangm menakutkan bagi petani di sentra-sentra perkebunan tembakau di Indonesia tak tekecuali perkebunan di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Salah satu petani tembakau asal Desa Candijati, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, Jumantoro menggambarkan kondisi perkebunan tembakau saat ini. Menurut Jumantoro, tembakau pernah menjadi komoditas yang identik dengan kemakmuran petani Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Namun, perubahan iklim, kemarau panjang, hingga penyusutan lahan membuat kejayaan daun emas tersebut mulai menghadapi tantangan.”Kalau dulu disebut daun emas hijau, sekarang disebut daun lemas.” katanya seperti dikutip dari tribunnews.com, Jumat (6/11).

Baca Juga: https://thinkway.id/ini-daerah-penghasil-tembakau-terbaik-di-indonesia/

Meski menghadapi berbagai persoalan, tembakau tetap menjadi komoditas yang sulit ditinggalkan petani di Jember.Selain memiliki nilai ekonomi, tanaman ini sudah melekat sebagai budaya pertanian masyarakat setempat.Bahkan, muncul ungkapan dalam bahasa Madura, “Tak lakek mon tak namen bekoh”, yang berarti belum menjadi lelaki jika tidak menanam tembakau.Ungkapan tersebut menggambarkan kuatnya identitas tembakau dalam kehidupan masyarakat Desa Candijati.

Tembakau Jadi Tabungan Keluarga Petani

Bagi masyarakat Candijati, menanam tembakau bukan sekadar aktivitas pertanian musiman.Komoditas ini menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga.Dalam satu tahun, pola tanam petani umumnya berupa padi-padi-tembakau atau padi-jagung-tembakau.

Hasil panen padi dan jagung lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.Sementara keuntungan dari tembakau menjadi sumber pendapatan sekaligus tabungan keluarga.Jumantoro mengakui, dibandingkan komoditas lain seperti padi dan jagung, tembakau masih memberikan peluang keuntungan lebih besar.

Kemarau panjang menyebabkan ketersediaan air berkurang sehingga pertumbuhan tanaman terganggu.Tidak sedikit tanaman tembakau yang tumbuh kerdil dan tidak berkembang secara optimal.Jumantoro bahkan mengajak melihat langsung lahan pertanian yang mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan air.

Dampaknya tidak hanya terlihat pada kondisi tanaman, tetapi juga biaya produksi yang semakin meningkat.Jika dalam kondisi normal biaya pengairan berkisar Rp 300.000 hingga Rp 500.000 per hektare, pada musim tanam 2026 angkanya bisa mencapai Rp1 juta per hektare.

Meski demikian, petani tetap bertahan karena tembakau masih dianggap memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan alternatif tanaman lainnya.Panen Lebih Cepat Berakhir, Produksi Petani Menyusut
Kondisi serupa dialami Solehudin, petani tembakau asal Dusun Krajan Timur, Desa Candijati, Kecamatan Arjasa.

Menurut Soleh, kemarau panjang membuat masa panen tahun ini lebih pendek dibandingkan kondisi normal.Biasanya, petani bisa melakukan pemetikan tembakau mulai Agustus hingga November apabila kondisi cuaca mendukung.

Areal Tembakau Na-Oogst Menyusut Tajam

Di balik ketahanan petani, sektor tembakau Jember juga menghadapi persoalan penyusutan luas lahan tanam.Berdasarkan data Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jember, luas areal tembakau jenis Na-Oogst pada musim tanam 2026 diperkirakan hanya berkisar 1.500 hingga 2.000 hektare.Angka tersebut turun tajam dibandingkan 2024 yang masih mencapai sekitar 6.000 hektare.

Sementara itu, luas areal tembakau Voor-Oogst, yang terdiri dari jenis Kasturi dan rajang, berada di kisaran 15.000 hektare.Ketua APTI Jember, Suwarno, menyebut penyusutan areal tanam Na-Oogst dipengaruhi kerugian yang dialami petani selama dua tahun terakhir.Kondisi tersebut membuat sebagian petani memilih mengurangi luas tanam, bahkan menghentikan budidaya tembakau Na-Oogst.

Selain faktor cuaca yang memengaruhi kualitas daun, terbatasnya permintaan pasar ekspor juga menjadi salah satu penyebab penurunan minat petani.Jember Masih Menjadi Sentra Tembakau Jawa Timur
Meski menghadapi berbagai tantangan, Jember masih tercatat sebagai salah satu sentra utama produksi tembakau di Jawa Timur.

Berdasarkan data Satu Data Pertanian Kementerian Pertanian tahun 2024, produksi tembakau Jember pada 2023 mencapai sekitar 29 ribu ton atau berkontribusi 29,13 persen terhadap total produksi tembakau Jawa Timur.Posisi tersebut menempatkan Jember sebagai penghasil tembakau terbesar di provinsi ini, diikuti Probolinggo, Pamekasan, Bojonegoro, dan Situbondo.

Secara umum, terdapat dua kelompok varietas tembakau yang dibudidayakan petani Jember, yakni Na-Oogst dan Voor-Oogst.Na-Oogst merupakan tembakau yang umumnya digunakan sebagai bahan baku cerutu karena bagian daunnya dimanfaatkan sebagai pembungkus.

Sementara Voor-Oogst terdiri dari jenis Kasturi dan rajang.Tembakau rajang banyak dibudidayakan di Kecamatan Arjasa dan Jelbuk. Adapun tembakau Kasturi tersebar di Kecamatan Sukowono, Kalisat, Ledokombo, Pakusari, Mayang, Silo, dan Sumberjambe.

Untuk Na-Oogst, sentra penanamannya meliputi Kecamatan Jenggawah, Ajung, Ambulu, Wuluhan, Puger, Rambipuji, dan Balung.Pada musim panen 2026, harga pembelian tembakau di tingkat petani bervariasi berdasarkan jenis dan kualitas.

Tembakau rajang dan Kasturi berada di kisaran Rp60.000 hingga Rp65.000 per kilogram. Sementara Na-Oogst berada di kisaran Rp80.000 hingga Rp120.000 per kilogram.

Baca Juga: https://thinkway.id/wisata-tembakau-di-jember/

Daun Tembakau Tetap Menjadi Identitas Jember

Di tengah persoalan perubahan iklim, biaya produksi, dan penyusutan areal tanam, tembakau masih memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Jember.Komoditas ini bukan hanya sumber penghasilan petani, tetapi juga bagian dari identitas daerah.

Daun tembakau bahkan menjadi salah satu unsur lambang Pemerintah Kabupaten Jember dan Universitas Jember.Selain itu, bentuk daun tembakau turut menginspirasi motif batik khas Jember yang menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal.

Bagi petani seperti Jumantoro dan Soleh, berbagai persoalan yang dihadapi tidak serta-merta membuat mereka meninggalkan tembakau.Selama komoditas ini masih memberikan peluang ekonomi dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat, menanam tembakau tetap menjadi pilihan.

Hanya saja, julukan daun emas yang dahulu melekat pada tembakau Jember kini harus berhadapan dengan kenyataan baru: tanaman yang sama semakin rentan terhadap perubahan cuaca dan tekanan biaya produksi.Daun emas itu belum sepenuhnya kehilangan nilainya, tetapi petani harus bekerja lebih keras untuk mempertahankannya.

 

Related Posts
Main Layangan, Cara Petani Tembakau Minta Hujan

Warga Desa Kotanyar Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo, ramai-ramai lomba bermain layang-layang raksasa. Permainan layang-layang raksasa ini diberi nama Toancak. Tradisi ini Read more

Dinas Perkebunan Jambi Lirik Potensi Tembakau Rakyat

Potensi komoditi perkebunan tembakau (tobacco) di Provinsi Jambi, terutama di tiga daerah penghasil, seperti Kabupaten Merangin, Kota Sungai Penuh, dan Read more

Jejak Yap Kay Tjay, Pemburu Tembakau Asal Tiongkok

Ratusan tahun, penjelajah dari berbagai negara Eropa, Tiongkok, Jepang, Timur Tengah dan lain-lain berebut masuk di daratan nusantara. Mereka tertarik Read more

Kartunis 30 Negara Bakal Unjuk Gigi di Wisma Perdamaian

Semarang akan menjadi tuan rumah pameran kartun internasional bertajuk "International Tobacco Cartoon Exhibition 2017". Pameran ini merupakan agenda kerjasama Gold Read more

Redaksi

About Author

You may also like

Potret

Dinas Perkebunan Jambi Lirik Potensi Tembakau Rakyat

Potensi komoditi perkebunan tembakau (tobacco) di Provinsi Jambi, terutama di tiga daerah penghasil, seperti Kabupaten Merangin, Kota Sungai Penuh, dan
Potret Tradisi

Jejak Yap Kay Tjay, Pemburu Tembakau Asal Tiongkok

Ratusan tahun, penjelajah dari berbagai negara Eropa, Tiongkok, Jepang, Timur Tengah dan lain-lain berebut masuk di daratan nusantara. Mereka tertarik