Thinkway Logo
Fajar/Rian, “Si Telat Panas” yang Berhasil Manjawab Kritik dengan Prestasi Mentereng

Fajar/Rian, “Si Telat Panas” yang Berhasil Manjawab Kritik dengan Prestasi Mentereng

THINKWAY.ID Pemain bulutangkis ganda putra Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto atau fajar/Rian mengawali kompetisi 2023 dengan membawa kabar menggembirakan. Pasangan ini berhasil menempati rangking pertama dunia pada kategorinya, berdasar pada pembaruan peringkat terbaru per Rabu (4/1) dari website BWF, federasi tertinggi bulutangkis dunia.

Fajar/Rian mengumpulkan 88.655 poin, mengungguli pasangan The Daddies Hendra/Ahsan dan ganda putra Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi. Tak hanya itu, pasangan ini juga menyabet penghargaan Most Improved Player of The Year 2022.

Pasangan yang kali pertama dipertemukan sejak 8 tahun silam ini, sepanjang 2022 sukses melangkah ke partai final dalam delapan turnamen kelas dunia yang berbeda. Empat di antaranya berhasil mereka juarai. Performa impresif mereka benar-benar telihat pada paruh kedua musim 2022.

Ini menjadi pencapaian ranking tetinggi sepanjang perjalanan karier profesional mereka di bulutangkis. Sekaligus sebagai bukti bahwa mereka mampu lepas dari bayang-bayang pasangan Minions, Kevin Sanjaya/Markus Gideon yang kini hanya mampu tersangkut di peringkat 23 dunia.

Fajar “Sarasosow” Alfian

Fajar Alfian lahir pada 7 Maret 1995. Kariernya bermula dari Perkumpulan Bulutangkis (PB) SGS PLN Bandung. Sejak 2014, Fajar masuk ke pusat pelatihan nasional (pelatnas) PBSI di Cipayung.

Impiannya menjadi seorang atlet bulutangkis profesional melalui perjuangan berat dan tak mudah. Banyak hal yang harus ia korbankan demi mencapai mimpinya.

Jauh dari orang tua adalah sebuah hal, bahkan Fajar harus rela sekolahnya terbengkalai. Sebelum masuk pelatnas Cipayung, dalam seminggu ia hanya masuk sekolah sebanyak 3 kali. Sisanya ia gunakan untuk berlatih bulutangkis.

Prestasi nyata Fajar adalah berhasil menempati posisi ketiga nomor ganda campuran pada kompetisi Asian Junior Championships 2013. Pada SEA Games 2017, Fajar menggondol medali emas di nomor beregu, dan medali perunggu di nomor ganda putra bersama Muhammad Rian Ardianto.

Bersama Rian, reputasinya benar-benar diperhitungkan saat ia berhasil meraih medali perak di Asian Games 2018 saat melawan Minions lewat pertandingan ketat.

Fajar punya kebiasaan unik, kerap tertangkap kamera meneriakkan kata “Sarasososow” saat berhasil meraih poin dalam sebuah laga bulutangkis. Kata ini tak punya makna spesifik, tapi hanya karangan spontan dari Fajar untuk memotivasi dirinya agar lebih bersemangat dan lebih baik lagi.

Kata ini juga ia gunakan untuk memancing lawan saat kondisi lapangan memanas. Jadi, kata itu juga digunakan sebagai “psy war” alias perang urat syaraf pada lawannya di lapangan.

Muhammad Rian “Mas Jom” Ardianto

Rian lahir pada 13 Februari 1996. Ia merupakan jebolan klub Jaya Raya Jakarta dalam kejuaraan nasional. Sebelum dipasangkan dengan Fajar, ia adalah pemain tunggal, tapi sekaligus punya prestasi bagus dalam nomor beregu campuran dan ganda campuran dalam kejuaraan dunia serta level Asia.

Pemuda kelahiran Bantul ini kali pertama kenal dengan bulutangkis lewat Ayahnya, Sarbini. Rian kecil memupuk skill bulutangkisnya lewat PB Bintang Mataram. Selepas SMA, pemuda pendiam ini hijrah ke Jakarta saat dipanggil masuk ke Pelatnas di Cipayung dan langsung dipasangkan dengan Fajar.

Fakta unik, Rian punya nama panggilan “Mas Jom”, berawal saat ia bergabung di klub Jaya Raya, terdapat tiga orang bernama Rian. Untuk membedakan, Rian yang baru bergabung ini dipanggil dengan “Jom”, berasal dari nama pembunuh sadis dari Jombang.

Fajar/Rian alias Fajri, Si Pasangan Telat Panas

Tahun 2014, untuk kali pertama Fajar/Rian dipasangkan sebagai pasangan ganda putra. Chemistry yang mereka jalin tak butuh waktu lama, keduanya langsung klop. Prestasi pertama yang mereka raih adalah Juara Indonesia Challenge 2014. Dengan “nama panggung” Fajri, pretasi mereka perlahan bertambah.

Fajar/Rian selama ini digambarkan susah lepas dari bayang-bayang Minions, diiringi dengan berbagai kritikan dari publik, bahkan dari Herry IP, pelatih mereka sendiri. Pasangan ini awalnya kerap disalip juniornya saat bertarung di kancah internasional.  Fajar/Rian menjadikan kritikan tersebut cambukan mereka untuk bangkit. Bagai mesin yang telat panas, prestasi mereka pelan tapi pasti terus menanjak.

Fajar/Rian melanjutkan tradisi bagus bulutangkis Indonesia khususnya pada sektor ganda putra, yang bisa dikatakan dikenal cukup berhasil soal urusan regenerasi. Konsistensi yang mereka suguhkan tahun lalu bukan tak mungkin bakal mereka ulangi tahun ini dan tahun-tahun mendatang, apalagi mereka terhitung masih berusia muda.

Fakta unik satu lagi, pasangan ini punya usaha patungan warung kopi dengan nama “Fajri Cofee” di Cibiru, Bandung yang buka sejak Maret 2019, sebagai simbol kekompakan mereka sebagai pasangan ganda putra harapan baru Indonesia setelah era The Daddies dan Minons.

administrator

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.