THINKWAY.ID – Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengungkapkan, saat ini Indonesia memiliki modal sumber daya hayati yang kuat untuk mengembangkan industri agro dan bersaing di pasar global, termasuk di antaranya negara – negara anggota BRICS. Hal ini ditunjung oleh sejumlah komoditas agroindustri yang mencatatatkan pertumbuhan ekspor yang cukup tinggi di antarnya, ekspor kopi, teh, tembakau dan rempah – rempah meningkat 54,44 persen.
Capain tersebut, menurut Faisol – akrab Faisol Riza disapa, menunjukan kontribusi sektor agroindustri dalam perdagangan internasional, terutama melalui peningkatan nilai tambah komoditas yang dihasilkan di dalam negeri. Daya saing industri agro Indonesia terlihat dari posisi sejumlah komoditas dan produk olahannya di pasar internasional. Pada sektor hasil tembakau, Kementerian Perindustrian mencatat Indonesia menempati posisi sebagai eksportir produk hasil tembakau terbesar keenam di dunia. Sementara itu, Indonesia merupakan produsen kopi terbesar keempat dan produsen produk olahan kakao terbesar keempat secara global.
Baca Juga: https://thinkway.id/kopi-arabika-temanggung-ini-beraroma-tembakau/
“Salah satu produk hasil tembakau unggulan adalah cerutu premium berbasis tembakau Deli dan Besuki yang telah diakui pasar global,” ungkap Faisol dalam keterangannya, yang dikutip dari Kompas.com, Jumat (6/11).
Selain berkontribusi terhadap perdagangan internasional, penguatan industri prioritas juga memiliki keterkaitan dengan ketahanan nasional. Staf Khusus Menteri Pertahanan Bidang Tata Negara Kris Wijoyo Soepandji menyoroti pentingnya penguatan sektor-sektor ekonomi strategis sebagai bagian dari sistem pertahanan negara. Menurut Kris, sistem pertahanan negara tidak hanya mencakup aspek militer, tetapi juga aspek nonmiliter. Dalam konteks tersebut, kekuatan ekonomi dan industri nasional menjadi salah satu elemen yang perlu diperhatikan. Penguatan sektor ekonomi strategis melalui peningkatan nilai tambah dan daya saing industri disebut sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto.
Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara. Dalam konteks itu, pengembangan industri prioritas yang mampu menciptakan nilai tambah, memperluas lapangan kerja, serta memperkuat daya saing ekspor dinilai dapat berkontribusi terhadap kemandirian ekonomi sekaligus memperkuat daya tahan nasional. Dorong hilirisasi kelapa, cokelat, dan tembakau Pengembangan hilirisasi industri agro seperti kelapa, cokelat, dan tembakau dinilai perlu mendapat dukungan lebih lanjut. Percepatan hilirisasi pada subsektor tersebut dinilai dapat mengoptimalkan penyerapan bahan baku domestik sekaligus memperkuat rantai pasok industri.
Baca Juga: https://thinkway.id/pelaku-industri-tembakau-usul-cukai-tak-naik-jaga-keberlangsungan-iht/
Di sisi lain, pengembangan industri pengolahan juga berpotensi memberikan dampak terhadap kesejahteraan petani dan pelaku industri pendukung.
Intervensi kebijakan dan kemudahan regulasi menjadi salah satu aspek yang dinilai penting untuk mendorong penyerapan tenaga kerja manufaktur dalam skala besar. Selain itu, penguatan industri pengolahan komoditas domestik diharapkan dapat meningkatkan penerimaan negara dan devisa melalui kegiatan ekspor produk bernilai tambah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah menyusun peta jalan hilirisasi industri agro secara komprehensif.
Peta jalan tersebut diperlukan untuk mendukung perencanaan kebijakan yang selaras dengan tujuan hilirisasi, mulai dari optimalisasi bahan baku, penguatan rantai pasok, hingga peningkatan daya saing produk olahan di pasar internasional. Dengan posisi Indonesia sebagai salah satu produsen utama berbagai komoditas tropis dunia, penguatan daya saing industri agro menjadi salah satu agenda dalam pengembangan industri prioritas nasional.