Thinkway Logo
7 Minuman Lokal Khas Indonesia: Warisan Budaya, Sarat dengan Kearifan Lokal

7 Minuman Lokal Khas Indonesia: Warisan Budaya, Sarat dengan Kearifan Lokal

THINKWAY.ID – Indonesia sangat kaya dalam berbagai konteks. Negara kita diakui punya keragaman suku, berikut kebudayaan yang mengikutinya. Budaya yang dimaksud juga bisa dijabarkan dalam banyak lapisan, mulai dari upacara adat saat memperingati silus kehidupan, menyambut tamu, dan lain-lain.

Minuman lokal Indonesia sangat beragam, seringkali tak bisa dilepaskan dari aktivitas kebudayaan lokal. Hampir tiap daerah di Indonesia punya minuman lokal dengan ciri khasnya masing-masing.

Minuman lokal yang dimaksud umumnya mengandung alkohol dengan kadar tertentu, karena biasanya melewati proses fermentasi. Maka minuman alkohol sejatinya tak hanya monopoli negara-negara maju di dunia, misalnya budaya barat.

Minuman lokal di Indonesia kebanyakan berasal dari bahan-bahan alami yang dawetkan sehingga bisa juga disebut sebagai minuman fermentasi. Fermentasi adalah suatu proses pengawetan makanan yang menggunakan mikroorganisme, seperti bakteri atau ragi.

Bakteri dan ragi berfungsi mengubah kandungan karbohidrat dalam makanan, seperti pati dan gula. Setelah didiamkan dalam sekian waktu, akan timbul asam atau alkohol. Cairan yang dihasilkan dari proses fermentasi inilah yang menjadi minuman yang dimaksud.

Minuman Lokal Warisan Nenek Moyang

Bangsa Indonesia telah mengenal minuman beralkohol sejak berabad-abad silam. Walaupun tak ada catatan pasti kapan budaya minum alkohol muncul di Indonesia, namun terdapat beberapa peninggalan sejarah yang menandakan bahwa kebiasaan itu sudah lama ada di Indonesia.

Prasasti Pangumulan (902 M) di Yogyakarta mencatat, bahwa tuak difungsikan sebagai minuman yang disajikan dalam upacara penetapan Tanah Sima. Pada 1903, ditemukan Serat Ma Lima, berisi falsafah hidup orang Jawa berupa lima larangan, salah satunya “Moh Mendem” yang berarti larangan mabuk. Maknanya sederhana: Minumlah dalam kadar secukupnya dan bertanggung jawab.

Kitab Negarakertagama (1365), mengungkap bahwa arak dan tuak selalu ada pada tiap perayaan di Kerajaan Majapahit. Di Pakualaman Yogyakarta, terdapat tarian Beksan Inum yang dipertunjukkan di lingkungan Kadipaten Pakualaman. Tarian ini menampilkan empat penari pria membawa botol minuman berikut dua slokinya.

Dengan demikian, minuman alkohol khas Indonesia merupakan bagian dari kebudayaan itu sendiri, karena merupakan warisan turun–temurun dan bagian dari kebudayaan suatu suku.

Disclaimer: Karena umumnya kadar minuman lokal Indonesia beralkohol tinggi, sangat disarankan untuk mengonsumsinya dengan bertanggung jawab dan tak berlebihan.  Sekaligus, untuk menjaga agar unsur kearifan lokalnya tetap tejaga.

Berikut 7 minuman lokal khas Indonesia.

Moke (NTT)

Moke merupakan minuman lokal yang berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dibuat dari penyulingan buah dan bunga pohon lontar atau enau, dengan aroma menyerupai wine dengan kadar alkohol 10-15 persen. Pulau Adonara diakui sebagai penghasil Moke terbaik. Moke disuling dengan wadah dari tanah liat dan uapnya dialirkan menggunakan batang bambu. Minuman ini biasanya disajikan pada acara-acara adat atau kumpul-kumpul di akhir pekan. Makanan pendamping moke biasanya terdiri dari berbagai makanan khas Flores, seperti ikan kuah asam, pisang bakar, ikan bakar, sop kambing, dan sambal tomat.

Ciu (Jawa Tengah)

Ciu adalah minuman yang diperoleh dari fermentasi singkong dalam pembuatan tapai. Ciri khas ciu, biasanya tak berwarna dan sangat jernih, dengan bau menyengat, berkadar alkohol cukup tinggi, mulai dari 25-70 persen. Ciu berasal dari daerah Desa Sumpiuh, Banyumas, Cikakak Ajibarang (Jawa Tengah). Ada sensasi pahit sementara saat diminum, kadang disertai sensasi terbakar pada tenggorokan. Terdapat juga ciu Bekonang dari Sukoharjo yang sangat populer, hasil penyulingan tetes tebu yang telah difermentasi.

Arak (Bali)

Arak Bali berasal dari air nira yang disadap dari pohon keluarga palma, seperti lontar, kelapa, dan aren. Setelah melalui proses fermentasi, air nira disuling menjadi arak Bali. Kandungan alkohol arak Bali bisa mencapai 30–50 persen, dengan daerah penghasil terbaik di Karangasem. Arak Bali biasanya diminum saat upacara adat, saat bersantai, dan menghangatkan tubuh. Ciri khas arak Bali adalah, setelah semalam diminum, keesokan harinya badan akan baik-baik saja dan tak sakit seperti umumnya minuman alkohol lain. Saking populernya, produksinya sudah diekspor ke berbagai negara.

Cap Tikus (Minahasa)

Cap Tikus berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara yang dibuat dari fermentasi dan penyulingan getah tandan bunga pohon enau atau aren. Kadar alkohol Cap Tikus tergolong tinggi, 20-45 persen, tergantung proses penyulingan. Minuman ini akan mendapatkan hasil terbaik pada proses penyulingan pertama, karena rasanya paling enak dan kadar alkoholnya paling tinggi. Penamaaan Cap Tikus cukup unik, berawal sekira tahun 1829, beberapa orang Minahasa yang mengikuti pendidikan militer menemukan minuman lokal Sopi (Maluku) dalam botol bergambar ekor tikus, yang dijual pedagang Tiongkok di Benteng Amsterdam, Manado. Orang-orang Minahasa akhirnya menyebut Cap Tikus, merujuk minuman tersebut.

Sopi (Maluku)

Sopi adalah minuman lokal yang sangat populer, berasal dari Maluku, yang berasal dari fermentasi dan penyulingan tanaman enau. Nama sopi berasal dari bahasa Belanja, zoopje (alkohol cair). Kandungan alkohol Sopi mencapai 30 persen. Sopi sebenarnya mirip dengan Moke, perbedaannya teletak pada alat penyuling. Minuman ini disuling dengan gentong yang disambung dengan pipa untuk mengalirkan uap ke sebuah wadah. Sopi adalah lambang kebersamaan dalam tradisi masyarakat Maluku. Dalam menyelesaikan masalah adat, masyarakat Maluku duduk bersama sambil minum sopi. Pemanfaatan Sopi kemudian meluas, biasanya juga dikonsumsi sebagai selingan dalam acara kumpul-kumpul keluarga, marga, atau komunitas.

Baram (Kalimantan Tengah)

Baram punya usia panjang, karena sudah dikonsumsi oleh suku Dayak-Kaharingan di Kalimantan Tengah sejak ratusan tahun lalu. Baram berbahan utama beras ketan yang ditumbuk dengan rempah adas, lengkuas, dan kayu manis. Bahan-bahan ini dicampur air, kemudian menjadi adonan yang dikeringkan menjadi ragi. Ragi dipakai untuk mengolah beras ketan dan gula menjadi tape. Didiamkan sekira seminggu, kemudian menghasilkan Baram. Rata-rata kadar alkohol Baram sekitar 10-20 persen, bisa mencapai 80 persen jika didiamkan selama berbulan-bulan. Baram tak hanya jadi identitas suku ini, tapi juga dimanfaatkan dalam upacara Tiwah untuk mengantar roh manusia yang telah meninggal menuju alam lain.

Tuo Nifaro (Nias)

Tuo Nifaro (Tuak Nias) berasal dari Kepulauan Nias, hasil penyulingan dari fermentasi tuak mentah, yakni legen atau cairan segar dari tetes nira atau bunga kelapa muda. Minuman ini sangat unik, dengan ciri khas warnanya yang sangat bening. Kadar alkoholnya bisa mencapai 100 persen untuk kelas pertama, yang biasanya dimanfaatkan sebagai obat untuk asam urat, encok, dan sakit sendi. Tuo Nifaro yang diminum umumnya adalah kategori kelas tiga, itupun dianjurkan dicampur dulu dengan air putih atau tuak mentah, dalam takaran tertentu.

administrator

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.