Jelajah

Mengulik sejarah Tembakau di Nusantara

Kenaikan Tarif Cukai Rokok dan Pengaruhnya tehadap Warisan Budaya Kretek (Sumber Dok.MI/Panca Syurkani)
Kenaikan Tarif Cukai Rokok dan Pengaruhnya tehadap Warisan Budaya Kretek (Sumber Dok.MI/Panca Syurkani)

Penulis: Tina Idris

THINKWAY.ID – Taukah kamu, tembakau masuk ke Indonesia melalui perdagangan antarbangsa yang dibawa pedagang Portugis sebagai salah satu komoditas tukar. Mereka membawa bibit serta daun tembakau yang sudah dikeringkan. Dari titik awal ini, tembakau perlahan berakar dalam kehidupan masyarakat dari tanaman kebun hingga komoditas perkebunan besar, lalu bertransformasi menjadi identitas budaya melalui kretek.

1. Awal masuk dan budidaya mandiri (abad ke-17)

Hingga sekitar tahun 1650, masyarakat mulai menanam tembakau secara mandiri. Pengetahuan budidaya menyebar dari satu wilayah ke wilayah lain seiring meningkatnya permintaan dan kebiasaan konsumsi tembakau.

Baca Juga: https://thinkway.id/kementan-ungkap-tiga-cara-turunkan-kadar-nikotin-tembakau/

2. Perkebunan besar dan kejayaan komoditas (abad ke-19)

Pada tahun 1860, setelah masa tanam paksa dihapuskan, banyak masyarakat memanfaatkan lahan-lahan kosong untuk dijadikan perkebunan tembakau. Pada masa inilah kejayaan tembakau mulai meroket; investor asing membuka perkebunan dalam skala yang sangat besar.

3. Perkebunan tembakau terbesar berada di beberapa wilayah, antara lain:

– Sumatra Utara (Deli)
– Jawa Timur (Besuki dan Jember)
– Jawa Tengah (Klaten)

Masuknya perkebunan tembakau membawa perubahan besar di sekitar wilayah perkebunan. Perekonomian masyarakat meningkat, kebutuhan tenaga kerja bertambah, dan akses transportasi mulai terbuka sehingga menghadirkan banyak peluang kerja. Tembakau menjadi tanaman unggulan yang mengawali era industrialisasi tembakau di Nusantara, bahkan sempat menjadi salah satu sumber devisa terbesar.

Baca Juga: https://thinkway.id/kemenperin-sebut-iht-tertekan-maraknya-rokok-ilegal-gerus-penerimaan-negara/

4. Dari tembakau ke kretek: identitas lokal (hingga 1945 dan setelahnya)

Hingga tahun 1945, tembakau turut memasuki masa kemerdekaan Republik Indonesia. Kretek kemudian berkembang sebagai produk lokal yang menjadi simbol identitas Nusantara.Pada masa kemerdekaan, industri kretek mampu menyerap tenaga kerja—mulai dari sektor pertanian, transportasi, hingga buruh pabrik—serta menghasilkan pendapatan negara melalui cukai. Produk-produk kretek pun bermunculan, baik dari produsen besar maupun skala kecil, yang turut menggerakkan ekonomi masyarakat. Persaingan semakin kompetitif; para pengusaha pun semakin aktif berinovasi untuk menghasilkan produk yang berkualitas.Selain sebagai komoditas dan produk budaya, tembakau juga pernah dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan alternatif untuk membantu mengatasi beberapa masalah kesehatan.

Related Posts
Main Layangan, Cara Petani Tembakau Minta Hujan

Warga Desa Kotanyar Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo, ramai-ramai lomba bermain layang-layang raksasa. Permainan layang-layang raksasa ini diberi nama Toancak. Tradisi ini Read more

Dinas Perkebunan Jambi Lirik Potensi Tembakau Rakyat

Potensi komoditi perkebunan tembakau (tobacco) di Provinsi Jambi, terutama di tiga daerah penghasil, seperti Kabupaten Merangin, Kota Sungai Penuh, dan Read more

Jejak Yap Kay Tjay, Pemburu Tembakau Asal Tiongkok

Ratusan tahun, penjelajah dari berbagai negara Eropa, Tiongkok, Jepang, Timur Tengah dan lain-lain berebut masuk di daratan nusantara. Mereka tertarik Read more

Kartunis 30 Negara Bakal Unjuk Gigi di Wisma Perdamaian

Semarang akan menjadi tuan rumah pameran kartun internasional bertajuk "International Tobacco Cartoon Exhibition 2017". Pameran ini merupakan agenda kerjasama Gold Read more

Redaksi

About Author

You may also like

Jelajah

Perokok Bijak Mengalah saat Bertemu Orang ini

Jelas, merokok tidak asal ngebul membabi buta. Meski di areal terbuka, perokok sudah pasti memiliki etika dan menjunjung tinggi asas
Jelajah Potret

Rahasia Sigaret Kretek Lintingan Tangan Wanita

“Mengapa semua pelinting di sini adalah perempuan, bukan tidak ada maksud dan tujuan. Ada sentuhan berbeda dibanding dengan tangan laki-laki,”