Thinkway Logo
Dukung Petisi WFH: Fenomena Digital Nomad dan Produktivitas Pekerjaan

Dukung Petisi WFH: Fenomena Digital Nomad dan Produktivitas Pekerjaan

THINKWAY.ID – Beberapa hari terakhir petisi online dari warganet untuk mengembalikan Work from Home (WFH) menyeruak. Ini tak lepas dari keputusan pemerintah untuk melonggarkan dan mencabut Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) per akhir tahun lalu.

Awalnya, PPKM dibelakukan dengan tujuan mengurangi aktivitas masyarakat di kerumunan akibat menjalarnya virus Covid-19. Ini membuat pemerintah menyerukan agar masyarakat bergeser dari pola kerja Work from Office (WFO).

Petisi di change.org dengan tajuk “Kembalikan WFH sebab Jalanan Lebih Macet, Polusi, dan Bikin Tidak Produktif” itu, dibuat oleh Riwaty Sidabutar. Hingga Minggu (8/1), petisi ini berhasil mengumpulkan 20 ribu tanda tangan dengan berbagai alasan pendukung.

Beberapa alasan yang dikemukakan antara lain bahwa proses perjalanan menuju kantor saat WFO, menimbulkan stress dan merusak mood pekerjaan. Belum lagi, soal kemacetan. Produktivitas pekerjaan disorot pada petisi ini apabila aturan WFO 100 persen diberlakukan kembali.

Keuntungan WFH

WFH punya beberapa keuntungan, baik untuk pemberi kerja dan para pekerjanya. faktor utamanya adalah suasana dan mood pekerjaan yang baik, untuk memaksimalkan produktivitas hasil pekerjaan.

Banyak pekerja dalam petisi tersebut yang mengklaim bahwa WFH sangat berguna untuk life balance atau keseimbangan hidup, setidaknya untuk hybird working (selang-seling pekerjaan).

Dengan WFH, para pekerja bisa menjadi dirinya sendiri dan memungkinkan mengatur waktunya dengan fleksibel. Suasana kerja juga bisa disesuaikan dengan mood, karena tak melulu kerja dari rumah, bisa di coworking space seperti kafe-kafe, coffee shop, melancong ke negara-negara lain sambil bacpackeran, atau bahkan melakukan side job alias pekerjaan sampingan.

Para pekerja juga tak merasa selalu diawasi oleh perusahaan, dengan syarat tetap on perform dan mencapai target, asal koordinasi dan komunikasi dilakukan dengan baik.

Fenomena Digital Nomad

WFH sejatinya sudah lumrah dilakukan bahkan sebelum era pandemi, terutama di negara-negara maju dengan bidang pekerjaan paling banyak pada sektor digital. WFH memungkinankan para karyawan melakukan pekerjaan untuk melakukan remote pekerjaan dari mana saja.

Di Barat, terdapat istilah Digital Nomad (Pengembara Digital), merujuk pada pengertian orang-orang yang bekerja secara independen di berbagai lokasi dengan menggunakan teknologi, dan menjalani gaya hidup nomaden alias berpindah-pindah. Umumnya, Digital Nomad bekerja dengan mengandalkan perangkat komputer portabel (laptop), dan jaringan internet. Digital Nomad menjelma jadi sebuah gaya hidup abad ke-21, mulai ramai tepatnya sejak tahun 2000-an.

Digital Nomad dikategorikan sebagai salah satu profesi impian banyak calon pekerja, terutama digandrungi oleh Generasi Millenials dan Gen Z, terkait dengan kebebasan dan fleksibilitas. Faktor kebebasan, tak terikat dengan waktu dan tempat menjadi magnet utama dream job ini. Digital Nomad juga membuat seseorang menjadi dirinya sendiri, karena tidak identik dengen pekerja kantoran yang identik beratribut rapi, alias tak mengutamakan ciri fisik.

Kualitas hidup Digital Nomad juga bisa menjadi semakin lebih baik karena umumnya tak terimbas kemacetan jalanan dan minim terpapar polusi udara. Digital Nomad juga memungkinkan bertambahnya jejaring karena sering bertemu dengan orang-orang baru. Dengan bertambahnya jaringan, maka wawasan bisa semakin luas.

Beberapa contoh profesi yang merujuk pada Digital Nomad antara lain penulis lepas, copy writer, influencer, YouTuber, vlogger, blogger, travel blogger, desainer, web designer, admin marketplace, digital marketer, virtual assistant, hingga programmer.

Perkembangan Digital Nomad membuat banyak lokasi-lokasi di dunia menjadi sangat identik dengan profesi ini. Indonesia punya Bali dengan Canggu sebagai surganya Digital Nomad dunia. Menyusul kemudian Jogja, karena biaya hidup yang relatif terjangkau dan mutu kehidupannya yang tinggi.

Di pulau Madeira, Portugal, terdapat sebuah desa bernama Ponta Do Sol. Hawaii-nya Eropa ini diklaim sebagai desa yang dikhususkan untuk Digital Nomad. Di lahan seluas 43,3 km persegi, ada sekira 8200 penghuni, 4000 di antaranya adalah Digital Nomad yang bekerja dan singgah di sana.

Beberapa negara kini mulai mem-branding lokasi-lokasi tertentu di wilayahnya sebagai “Tanah para Digital Nomad”, di antaranya Chiang Mai (Thailand), Medellin (Kolombia), Malta dan Valensia (Spanyol), Talinn Digital Nomad Village (Estonia), Nomad Gao (India), dan lain-lain.

Karena marak, fenomena Digital Nomad sempat diangkat dalam sebuah film indie berjudul Nomadland (2000).

Walaupun demikian, terdapat beberapa kekurangan pada profesi ini, kebanyakan karena faktor teknis pekerjaan. Di antaranya, penghasilan yang belum tentu menjanjikan, tak selalu mendapatkan tempat bekerja yang temporary, sulitnya mengatur jam kerja, dan faktor lain yang tergolong forje majeure misalnya kendala jaringan intenet.

Jadi, tetarik untuk jadi Digital Nomad, Genks?

administrator

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.