Thinkway Logo
Kampung Mbako, Destinasi Wisata Baru di Temanggung

Kampung Mbako, Destinasi Wisata Baru di Temanggung

Peningkatan perekonomian dan kesejahteraan dari sektor pariwisata pada masa pandemi COVID-19 dibidik petani tembakau di Desa Tlilir, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah dengan mendeklarasikan sebagai Kampung ‘Mbako’.

Keberadaan Kampung ‘Mbako’ tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Temanggung. Selain sarat edukasi, juga akan semakin memperkenalkan seni, budaya dan tradisi dari warga Temanggung.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Temanggung, Saltiyono Atmaji mengatakan, menyambut gembira atas dibukanya Kampung ‘Mbako’ di Desa Tlilir, sehingga menjadi destinasi wisata baru di Temanggung.

Ia mengatakan, wisata edukasi di Temanggung masih belum banyak, harapannya akan muncul dan tumbuh lebih banyak destinasi serupa dan spesifik atau tematis.

Pada eduwisata, terangnya, selain pengunjung mendapat pembelajaran positif diharapkan juga mengeluarkan uang dengan membeli berbagai souvenir atau saat menikmati fasilitas yang ada.

Masih banyak yang harus digarap untuk peningkatan kualitas Kampung ‘Mbako’, sehingga semakin menarik dan mengundang pengunjung untuk datang.

“Semakin banyaknya pengunjung, maka akan menjadi pendapatan warga dan mampu meningkatkan kualitas,”katanya.

Saltiyono mendatangkan puluhan wisatawan dari berbagai daerah di Jawa Tengah bertajuk ‘One Day Tour’ ke sejumlah tempat wisata di Temanggung. “Mereka kami ajak ke Kampung Mbako,” imbuhnya.

Kepala Desa Tlilir, Faturrahman mengatakan, berbagai aktivitas dan fasilitas tersedia di Kampung ‘Mbako’. Pengunjung dapat Live in dan mendapat edukasi terkait budidaya tembakau, termasuk ikut beraktivitas bersama warga.

Selain itu, tersedia fasilitas perpustakaan dan museum tembakau, green house tembakau, kesenian kuda lumping, kopi khas, oleh-oleh, kuliner, dan home stay.

“Kami berusaha membuka diri menjadi desa wisata, yakni edukasi tentang pertembakauan melalui Kampung Mbako,” ungkapnya.

Ia mengemukakan, sengaja memilih kampong, bukan desa, karena kampung artinya sangat spesifik termasuk kampung tembakau yang spesifik dengan hasil di daerah tersebut, yakni Srintil.

Ia menyampaikan, di Desa Tlilir ada 140 hektare lahan tembakau dengan rata-rata hasil 1 ton per hektare. Tiap tahun rata-rata muncul tembakau Srintil yang menjadi kebanggaan petani di daerah tersebut. “Hasil budi daya tembakau selama ini secara kualitas bagus,” katanya.

Ia mengatakan, berusaha memperkenalkan cara-cara budi daya tembakau dan tradisi budaya petani tembakau. Tradisi budaya yang kaya akan kearifan lokal tersebut bisa menambah khazanah budaya nasional.

Disampaikannya, karena masih pandemi Covid-19, maka diterapkan protokol kesehatan secara ketat untuk menghindari paparan Covid-19.

Seorang pengunjung, Sulis (32) mengatakan, sengaja datang ke Kampung ‘Mbako’ untuk melihat dan berinteraksi langsung dengan kehidupan petani, selain mengenal secara langsung tradisi budaya.

“Di sini terdapat museum tembakau. Saya tertarik melihatnya. Juga ada hasil-hasil tembakau rajangan dari tahun ke tahun, semua tersimpan dengan rapi,” katanya.

Warga setempat, Wahman (46) mengatakan bukan hal mudah untuk membuat Kampung ‘Mbako’. Perjuangan sangat panjang, hingga akhirnya warga menyetujuinya. Konsepnya sederhana, yakni wisatawan menyaksikan aktivitas warga secara natural.

“Kami dari pemandu wisata menerangkan maksud dan tujuan, serta filosofi dari aktivitas yang dilakukan warga,” terangnya.

Warga masih harus terus berjuang agar mampu memberikan yang terbaik pada pengunjung. Agar kesan positif selalu muncul. (sumber: infopublik.id)

editor

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.