Thinkway Logo
Ging Kritik Soeharto Lewat “Ruang Tunggu Bapak-bapak”

Ging Kritik Soeharto Lewat “Ruang Tunggu Bapak-bapak”

Sebelum menggeluti jurnalisme, Ging Ginanjar lebih dulu menekuni seni peran. Ia sempat mendirikan kelompok teater Independen yang mementaskan lakon yang menentang Orde Baru.

Menurut Ipit Dimyati, kakak kelas Ging sewaktu kuliah di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI yang kini Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung), Ging serius menekuni kesenian. Makanya ia memilih ASTI sebagai tempatnya menuntut ilmu.

Ipit merupakan mahasiswa jurusan teater angkatan 81, dan Ging angkatan Ging 82. Selama di ASTI, Ging banyak melakukan terobosan. Waktu itu, seni di perguruan tinggi dikenal mengusung seni untuk seni. Artinya seni tidak terkait dengan dunia luar seperti sosial atau masyarakat.

Namun menurut Ipit, kehadiran Ging mampu mengubah pemikiran tersebut. “Kehadiran Ging pengaruhi ISBI Bandung yang awalnya perguruan tinggi sen untuk seni. Dia ciptakan teater Independen dan hadir untuk melawan Orde Baru,” katanya, di rumah duka, Cimahi.

Salah satu lakon yang digarap Ging bersama kelompok teater eksperimennya berjudul “Ruang Tunggu Bapak-bapak”. Lakon ini berisi kritik terhadap rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto. “Ging membalikan seni untuk seni menjadi seni untuk rakyat dan perlawanan,” katanya.

Ipit menuturkan, kelompok teater Independen sempat menggelar pertunjukan di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). “Perjunukan di ITB dijaga Brimib dan tantara. Banyak intel,” katanya.

Lakon teater “Ruang Tunggu Bapak-bapak” juga sempat dimainkan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta pada 1998. Setelah itu, kelompok teater Independen selesai. Ging lebih banyak berkiprah di dunia jurnalistik hingga sekarang.

Ipit terakhir kali bercengkerama dengan Ging dua minggu sebelum dia meninggal. Waktu itu, Ging meminta doa untuk kesembuhan bapaknya yang lagi sakit. “Setelah itu pak Ganda (ayah Ging) sembuh, tapi Ging mendahului kita,” katanya.

Ging terakhir bertugas untuk BBC Indonesia. Pendiri organisasi wartawan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) itu lahir di Bandung 6 Juni 1964 meninggal Minggu (20/1/2019) pukul 19.05 WIB di Jakarta. Ia dimakamkan di TPU Cipageran, Cimahi, Selasa (22/1/2019). [Iman]

contributor

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.