Thinkway Logo
Bisnis Skincare Merajalela, Kok Bisa?

Bisnis Skincare Merajalela, Kok Bisa?

THINKWAY.ID – Bisnis skincare di Indonesia sedang tumbuh bersamaan dengan banyaknya sektor bisnis yang sedang goyah akibat pandemi. Fenomena tumbuhnya bisnis ini dapat dipahami jika dilihat dari valuasi penjualan kosmetik atau industri kecantikan secara global yang mencapai USD 145,3 miliar dan diproyeksikan akan terus tumbuh dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 3,6% per tahunnya selama 2020-2027. Pada 2027, valuasi pasar kosmetik dunia diproyeksi bakal menembus angka USD 185,5 miliar.

Berdasarkan laporan Statista, di Indonesia sendiri nilai pasar skincare sebesar 2 miliar USD pada 2019 atau 33% dari total pasar industri kecantikan global. Lalu pada 2020, industri tersebut mengalami kenaikan pendapatan yang signifikan hingga mencapai USD 7 miliar atau setara Rp100,02 triliun (kurs Rp14.381/USD 1).

Pandemi justru mengakselerasi pertumbuhan industri kecantikan dengan perkiraan mengalami kenaikan sebesar 7,25% menjadi sebesar USD 7.46 miliar di 2021, lalu tumbuh lagi sebesar 7,29% menjadi sebesar USD 8 miliar pada 2022. Pendapatan industri tersebut pun diperkirakan bakal meningkat lagi sebesar 7,26% menjadi sebesar USD 8,6 miliar pada 2023. Nilainya diprediksi tumbuh 5,64% menjadi 9,07 miliar pada 2024. Sementara, angkanya diproyeksi tumbuh 5,65% menjadi USD 9,58 miliar pada 2025.

Oke, kita coba telaah mengapa industri kecantikan dalam hal ini skincare mengalami pertumbuhan yang pesat. Kita harus memahami dulu bahwa industri kecantikan secara produk dibagi menjadi dua, yaitu kosmetik (make up base dan dekoratif) dan perawatan (personal care dan skincare).

Sebelum pandemi melanda, produk kecantikan masih dikuasai oleh kosmetik. Hal ini dikarenakan kosmetik diperlukan oleh kita semua disaat mobilitas offline masih tinggi sehingga diperlukan make up base dan dekoratif untuk beraktivitas di luaran sana. Di sisi lain kesadaran publik akan pentingnya perawatan mulai mendapatkan perhatian.

Ketika perawatan mulai mendapat perhatian, produk skincare mulai mendapatkan postur pasar di sektor industri kecantikan. Di saat pandemi, mobilitas berkurang, orang tidak perlu lagi berdandan untuk pergi ke kantor atau tempat-tempat pertemuan, sehingga orang lebih banyak memiliki waktu di rumah. Disinilah titik bisnis skincare mengalami ledakan.

Pasar yang besar ini memicu pertumbuhan bisnis skincare lokal. Alasan maraknya bisnis skincare lokal juga dipengaruhi oleh dua isu lokal orang-orang Indonesia: Isu halal dan eksotisme kulit lokal. Untuk isu halal barang tentu dikarenakan mayoritas orang Indonesia beragama Islam. Sementara untuk isu eksotisme kulit lokal, lebih kepada kebutuhan perawatan masing-masing individu berbeda-beda karena karakteristik kulit orang-orang Indonesia juga berbeda-beda. Dua hal ini yang mempengaruhi brand skincare lokal mendapatkan hati konsumen dalam negeri.

Oke, yuk mari kita lihat survey marketnya, Genks!!!

Berdasarkan hasil survei Inventure-Alvara, ada 54,9% responden yang lebih rutin menggunakan skincare ketika pandemi Covid-19. Setidaknya, ada empat efek yang diutamakan para responden ketika menggunakan skincare saat pandemi. Sebanyak 39,6% responden mengaku menginginkan efek cerah (glowing) ketika memakai skincare. Responden yang menginginkan efek pemutihan (whitening) dan anti-jerawat (anti-acne) masing-masing sebesar 21,7% dan 19,6%. Sedangkan, sebanyak 19,1% responden mengutamakan efek anti-penuaan dini (anti-aging) saat menggunakan skincare.

Seiring dengan beragamnya efek yang diinginkan, produk skincare yang digunakan oleh masyarakat pun berbeda-beda. Mayoritas atau 59,4% responden memprioritaskan penggunaan produk skincare yang berbentuk pembersih muka (facial cleanser). Sebanyak 47,3% responden memprioritaskan serum sebagai produk skincare yang wajib mereka miliki. Setelahnya ada 40,6% responden yang memilih masker. Ada pula 40,6% responden memilih pelembab (moisturizer) sebagai produk skincare prioritas yang wajib dimiliki. Kemudian, 33,4% responden memilih tabir surya (sunscreen).

Sementara responden yang memprioritaskan minyak wajah (face oil) sebesar 28,6%. Sebanyak 17,4% responden memilih essence sebagai produk skincare yang wajib dimiliki. Lalu, responden yang memprioritaskan toner pelembab dan pengelupasan kulit (exfoliating) sama-sama sebesar 15,1%. Sedangkan, 15,1% responden memprioritaskan face mist.

Nah ternyata selain mulai menguasai pasar domestik, bisnis skincare lokal kita juga mulai diekspor loh, Genks. Jadi ekspor Indonesia untuk produk skincare sebagian besar diekspor ke negara-negara ASEAN. Thailand, Malaysia dan Singapura merupakan negara tujuan utama ekspor skincare Indonesia. Ketiga negara tersebut secara kumulatif memiliki pangsa pasar sebesar 63,2% dari total ekspor skincare Indonesia di tahun 2020.

Industri kosmetik Indonesia juga menunjukkan performa kontribusi ekspor yang kian meningkat. Pada tahun 2020, ekspor produk komestik Indonesia (HS 33) mencapai USD 784,9 ribu, naik 1,5% dibandingkan dengan ekspor di tahun 2019. Pertumbuhan ekspor selama 5 (lima) tahun terakhir juga menunjukkan kinerja positif dengan mencatatkan rata-rata pertumbuhan sebesar 3,3% per tahun selama rentang waktu 2016 sampai dengan 2020.

Melihat besarnya market skincare Indonesia dan prospeknya yang menjanjikan, kira-kira kalian tertarik nggak nih, Genks untuk berbisnis skincare?

administrator

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.