Thinkway Logo
Navicula, Solusi Kenaikan BBM, dan Kampanye Sadar Lingkungan

Navicula, Solusi Kenaikan BBM, dan Kampanye Sadar Lingkungan

THINKWAY.ID – Navicula adalah contoh bagus untuk kalangan muda, bahwa isu konservasi, sangat bisa disuarakan lewat jalur yang sangat dekat dengan hobi dan gaya hidup.

Navicula adalah local hero Bali. Mereka kuat dengan identitas daerahnya. Skalanya kemudian membesar, karena kini mereka dikenal luas secara nasional, dengan ciri khas penulisan lirik yang responsif, berani, dan lugas.

Banyak kalangan muda yang kemudian “terganggu” dan sadar akan isu lingkungan, setelah mendengarkan tembang-tembang Navicula.

Banyak yang bisa dibongkar dari lirik-lirik lagu Navicula. Bukan cuma yang paling populer lewat nomor Mafia Hukum.

Misalnya dalam lirik Over Konsumsi, Navicula prihatin dengan Indonesia yang terhitung sering tertimpa bencana bukan hanya karena murni faktor alam, tapi juga karena deforestasi masif, kritik pada negara-negara maju yang tak mau mengurangi emisi gas, dan masih melakukan praktik agro-kimia.

Kearifan lokal sebagai benteng budaya dan konservasi juga diangkat oleh Navicula dalam lirik Bali Berani Berhenti. Nyepi jadi ikon ibadah dan kebudayaan Hindu Bali. Nyepi menjadi detoks teknologi, interaksi sosial, dan kejenuhan rutinitas. Ini sangat mungkin diadaptasi oleh daerah lain, dengan penyesuain tertentu dan kontekstual.

Dinasti Matahari tak cuma bercerita betapa Indonesia sangat kaya akan kebudayaan suku-sukunya. Sangat dekat dengan teori ekonomi dasar. Kebutuhan dasar manusia adalah sandang, pangan, dan papan.

Dalam kesepakatan umum, pangan adalah yang paling prioritas. Bahan makanan utama diambil dari lahan-lahan pertanian. Tanaman tumbuh dari hasil jasa sinar Matahari.

Ini diejawantahkan oleh Navicula, bahwa kita semua adalah anak-anak Matahari. Pihak-pihak yang mengeksploitasi pangan adalah mereka yang sama sekali tak paham prinsip ekonomi dasar.

Saat ini sedang hangat soal kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Lirik Metropolutan terkoneksi dengan hal tersebut. Isinya bercerita soal orang-orang yang terjebak dalam kota yang semrawut, salah satunya jengah dengan polusi udara.

Kalau ditelaah, lirik Metropolutan berisi kritik sekaligus tawaran solusi. Polusi udara dihasilkan dari residu asap kendaraan bermotor, kebanyakan kendaraan pribadi. Solusi yang disodorkan adalah, mulai pelan-pelan menggunakan kendaraan umum.

Atau, mencari subtitusi. Misalnya, menggunakan moda transportasi non-BBM. Bisa dengan bersepeda atau berjalan kaki bagi yang kondisi fisiknya masih memungkinkan.

Gede Robi, frontman Navicula, kerapkali melakukan orasi sebelum sebuah lagu dihentakkan dalam sesi live. Orasi yang ia lakukan seringkali menyerupai orasi budaya dan konservasi, dalam durasi singkat tapi cukup “berdaging”. Sekaligus jembatan bagi penonton pemula Navicula, untuk lebih memahami band bergenre Grunge.

Para jiwa muda kemudian tak cuma menyenangi nada-nada yang dihasilkan atau distorsi yang kentara. Tapi lewat pemahaman lirik, tumbuh kesadaran soal isu lingkungan dan sosial.

Satu gebrakan juga dilakukan oleh Robi. Bersama dengan Tiza Mafira, pengacara dari Jakarta, dan Prigi Arisandi, ahli biologi dan penjaga sungai dari Jawa Timur, ketiga anak muda ini menginisiasi film dokumenter bertajuk Pulau Plastik yang rilis pada April 2021.

Pulau Plastik menjabarkan separah apa polusi plastik yang terjadi di negeri ini. Ternyata, hal ini telah memasuki rantai makanan dan mempengaruhi kesehatan manusia. Tak hanya itu, mereka menawarkan upaya untuk mengatasi krisis polusi plastik tersebut.

Rasanya tak ada alasan lagi bagi para jiwa muda untuk berpura-pura tak peduli pada isu lingkungan.

Meski rasa malu dan kesadaran timbul dari masing-masing individu, kadang tetap butuh trigger agar hal tersebut bisa dimunculkan. Navicula mengambil peran sebagai trigger tersebut.

administrator

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.