Thinkway Logo
Mengenal Kemarau Basah yang Bikin Petani Tembakau Resah Setiap Musim

Mengenal Kemarau Basah yang Bikin Petani Tembakau Resah Setiap Musim

THINKWAY.ID – Sebagai salah satu negara tropis di dunia, Indonesia hanya memiliki dua musim saja sepanjang tahunnya. Kedua musim tersebut adalah musim huhan dan musim kemarau. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim penghujan terjadi pada Oktober hingga Maret. Sedangkan musim kemarau biasanya berlansung pada April hingga September, disaat kemarau inilah biasanya dimanfaatkan para petani tembakau untuk menanam tembakau, namun di saat menjelang musim panen petani dibuat resah dengan “kemarau basah” yang mengacam kegagalan panen.

Fenomena cuaca berupa kemarau basah yang menghantui para petani ini adanya pontensi hujan diiringi angin kencang yang masih terjadi pada musim kemarau menyebabkan tanaman tembakau mati atau gagal panen dengan tingkat risiko mencapai 20%. Kemarau basah ini membuat para petani tembakau merasa waswas. Dikutip dari laman radartulungagung.com, salah seorang petani Sumiatin asal Desa Bangunjaya, Kecamatan Pakel merasa resah adanya kemarau basah.

Tamanan tembakau milikinya yang masih berusia sebulan sudah mulai layu karena hujan yang terus menerus beberapa waktu lalu terakhir. Dampak yang paling fatal, tanaman tembakaunya bisa saja membusuk saat musim kemarau basah. Beberapa minggu belakangan ini, mayoritas wilayah Tulungagung sering diguyur hujan dengan beragam intensitas.

Tembakau memang salah satu jenis tanaman yang tidak bisa jika mendapatkan terlalu banyak air. Kalau terlalu banyak, tanaman berangsur layu dan bisa saja membusuk jika tidak ditangani dengan benar dan cepat. Sumiatin, juga terus bersiap jika sewaktu lahannya yang berukuran sekitar 30×15 meter persegi itu kebanjiran. “Kalau kebanjiran airnya harus dikeluarkan menggunakan diesel pompa air. Untungnya sampai sekarang tembakau saya belum pernah tenggelam, karena lahan di sini posisinya cukup tinggi dibanding lahan lainnya,” jelas Sumiatin.

Apalagi saat ini tanamannya juga masih muda, masih berumur satu bulan dan sangat rawan membusuk. Sedangkan untuk masuk masa panen, biasanya berumur tiga bulan. Sehingga masih ada waktu sekitar dua bulan lagi bagi Sumiatin untuk terus berjuang mempertahankan tanaman tembakaunya. “Tetap dirawat seperti biasa, masih disemprot juga setiap hari agar kualitasnya bisa tetap bagus,” katanya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.