Thinkway Logo
Kerukunan Umat Manusia melalui Tradisi Merokok

Kerukunan Umat Manusia melalui Tradisi Merokok

Aktivitas merokok memiliki nilai interaksi sosial yang humanis sepanjang peradaban manusia.

Seringkali bangsa besar melupakan tradisi kecil yang dilakukan nenek moyang. Di Indonesia, terutama Jawa, tradisi-tradisi kecil secara tidak sadar menumbuhkan budaya persatuan, persaudaraan, dan kerukunan yang tumbuh dari akar masyarakat. Salah satunya adalah aktivitas merokok. Sudah menjadi fakta sejarah, bahwa aktivitas merokok memiliki nilai interaksi sosial yang humanis sepanjang peradaban manusia. Tetapi juga menjadi fakta bahwa tradisi yang membawa budaya persatuan, persaudaraan, dan kerukunan umat manusia.

1) Joinan

‘Joinan’ rokok ini sebenarnya hanya sebuah istilah yang akrab digunakan oleh sebagian masyarakat Jawa. ‘Joinan’ berasal dari kata ‘join’, bahasa Inggris yang di-Jawakan. Artinya ‘ikut serta’ atau bergabung. Jadi, joinan rokok adalah budaya menikmati sebatang rokok untuk dihisap bersama dua orang secara bergiliran, atau lebih. Tiga orang, empat orang, bahkan bisa jadi se-RT merokok joinan. Paling mudah ditemui biasanya terjadi di kalangan anak muda kampung yang uang sakunya pas-pasan alias tidak mampu membeli rokok. Kerap juga ditemui di kalangan mahasiswa ‘ngekos’ yang lagi bokek.

Meski dalam kondisi miskin, lapisan masyarakat ini tetap ‘hore-hore’ bergembira ria menikmati hidup yang damai. Betapa romantisnya mereka menikmati kebersamaan, kesetiakawanan, persatuan dan saling menjaga kerukunan. Ini menjadi salah satu peristiwa kebiasaan yang menjadi tradisi. Tentu jauh dari karakteristik individual.

2) Interakasi Sosial

Di ruang smoking room, hotel, bandara, stasiun dan lain-lain, pasti akan ditemukan sesama perokok asyik berbincang sembari menikmati rokok. Sesama perokok terjadi interaksi sosial yang terjalin secara alami. Mereka memulai perbincangan dengan meminjam korek, cerita asal daerah, tujuan, hingga berkenalan. Interaksi kehidupan manusia yang sesungguhnya. Sedangkan di ruang tunggu yang tidak boleh merokok, bisa didapati deretan manusia kaku yang sibuk main gadget. Tak mengenal seni karena hidup mereka hanya berteman aplikasi.

3) Kasbon

Warung tradisional memiliki ciri khas humanis. Mengenal istilah ‘kasbon’. Maka akan mudah ditemui peristiwa membeli rokok tanpa membawa uang alias utang. Orang itu cukup mencatat di lembaran buku tulis bergaris. Bayarnya nanti setelah gajian. Pemilik warungnya tidak bangkrut. Mungkin karena adanya metode kepercayaan, kejujuran, dan keikhlasan. Peristiwa seperti itu paling kerap ditemui di kalangan pekerja bangunan dan pabrik.

4) Rukun Tetangga

Pos Kamling (Keamanan Lingkungan) adalah miniatur istana kerukunan di level masyarakat paling bawah. Sekelompok warga ikhlas melek hingga laur karena mendapatkan piket jaga Kamtibmas (Keamanan dan ketertiban masyarakat). Apa yang terjadi di Pos Kamling? Tentu saja, sembari udut sembari bersulang kopi. Hidup yang asyik bercerita sana-sini. Andai saja kiamat datang malam ini, mereka adalah saksi mata pertama kali.

(Ratna Dewi Amarawati)

administrator

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.