Thinkway Logo
Duh, Tanaman Tembakau di Gunungkidul Rusak Akibat Guyuran Hujan

Duh, Tanaman Tembakau di Gunungkidul Rusak Akibat Guyuran Hujan

Hujan yang masih sering mengguyur kawasan Gunungkidul dalam beberapa pekan terakhir membuat tanaman tembakau di kawasan tersebut rusak. Akibatnya, hasil panenan tembakau di sejumlah wilayah di Gunungkidul juga mengalami penurunan.

Dargo (67) Petani tembakau asal Padukuhan Ploso Kalurahan Giritirto Kapanewon Purwosari mengakui jika kualitas hasil panenan tembakau pada musim tanam kali ini memang mengalami penurunan yang cukup drastis di samping kualitas tembakau yang mereka tanam juga harga jumlanya anjlok.

Dargo menyebut dari beberapa peta lahan yang ia tanami tembakau hasil panennya turun drastis. Jika pada SIM musim normal ia mampu mengumpulkan panenan hingga 3,5 kuintal, namun panen kali ini ini dirinya baru mendapatkan hasil ratusan kilogram. Meskipun panenannya belum selesai, namun ia memperkirakan hasilnya hanya sekitar 1 hingga 1,5 kuintal saja.

“Masih ada beberapa petak yang belum saya panen. Tapi kayaknya hasilnya turun drastis, 50 persen lebih,”ujar dia, Minggu 8 Agustus 2021.

Akibat masih sering turun hujan tanaman tembakau yang dibudidayakan bersama dengan istri dan keluarganya banyak terserang ulat. Ulat ulat tersebut akan memakan daun-daun yang sejatinya sebentar lagi dapat dipanen.

Sehingga daun daun tembakau siap panen tersebut menjadi rusak. Upaya pemberian pestisida pun tak mempan untuk menghilangkan ulat yang terlanjur memakan daun tembakau mereka. Sehingga sebagian besar petani Hanya bisa pasrah dengan kondisi seperti sekarang ini.

“Itu kalau disimpan tidak bagus. Banyak jamurnya nanti. Ya sudahlah, sudah biasa juga. Itu sudah resiko kami,”ujar dia.
Lelaki yang juga menjadi pengepul tembakau ini menyebut kondisi serupa juga terjadi di wilayah lain seperti di Wareng Wonosari, Gedad Playen ataupun beberapa sentral tembakau di Gunungkidul lainnya. Para petani di wilayah lain yang setor tembakau ke dirinya pun mengalami penurunan.

Namun sejumlah petani masih beruntung karena mereka memiliki simpanan tembakau lawas di gudang. Tembakau yang telah mereka simpan selama 2 atau tahun terakhir saat ini harga di pasaran cukup bagus. Di mana Per kilogramnya mampu mencapai harga Rp150.000 hingga Rp170.000.

” Ya kami masih bersyukur di masa pandemi ini masih punya celengan (tabungan),”terang dia.

Rokip, petani tembakau lainnya menambahkan, selain mengeluh karena cuaca para petani tembakau di wilayah kabupaten Gunungkidul juga mengeluhkan banyaknya serbuan tembakau dari pabrik yang telah diberi bumbu atau diberi varian rasa seperti buah-buahan. Karena tembakau tembakau tersebut merusak harga pasaran.

“Kami tidak bisa berbuat banyak. Mudah-mudahan komoditas utama kami bisa bertahan,” jelasnya.(Sumber: suara.com)

editor

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.