Ribuan petani tembakau di sejumlah kabupaten di Jawa Tengah, mendesak agar pemerintah untuk sementara tidak membuka keran impor tembakau. Sebab saat ini sentra tebakau seperti di Kabupaten Wonosobo dan Temanggung sudah mulai memasuki panen raya

“Saat ini ada  sekitar 7.200 hektar tanaman tembakau di Wonosobo memasuki panen raya, belum Kabupaten Temanggung, lebih luas lagi. Oleh karena  karena pemerintah khususnya Kementrian Perdagangan  tidak impor tembakau untuk sementara waktu,” kata Resto Moyo Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Wonosobo, saat dihubungi Senin, 29 Juli 2019.

Jika ada impor maka produk tembakau petani lokal tidak semua terserap oleh pabrik rokok dan harganya akan jatuh. Seperti tahun lalu harga tembakau lokal jatuh di titik terendah Rp 50 ribu per kilogram, karena ada produk petani luar yang masuk ke tanah air. 

Dia berharap petani tembakau tahun ini benar-benar panen raya, sebab hasil panennya sangat bagus karena kemarau panjang. Moyo optimistis jika tembakau kering untuk grade C dan D bisa terjual Rp 70.100 per kgnya. “Dengan demikian petani punya modal untuk  menanam lagi,” katanya.

Meski saat ini perusahaan rokok seperti Gudang Garam, Djarum dan merek rokok lainnya belum membuka penawaran harga. Dia juga optimis jika tanaman tembakau seluas 7.200 ha mampu memproduksi sekitar 800 ton tembakau kering.

Moyo juga sangat mendukung disetujuinya pembatasan impor tembakau dari petani.”Namun kamu berharap, aturan itu segera direalisasikan agar kami segera menikmati hasilnya,” ucapnya.

Dia menegaskan, hasil tembakau petani Indonesia tidak kalah dibanding tembakau impor, bahkan kualitasnya lebih bagus. Untuk itu, sudah selayaknya pemerintah mengutamakan produk pertanian dalam negeri dibanding impor. “Selama ini impor tembakau tidak diatur, sehingga menggerus produk petani lokal. Selama ini kami selalu kalah,” tegasnya.

Ia juga mendesak agar aturan pembatasan impor tembakau dilaksanakan secepatnya. Bahkan, dirinya berharap tahun ini, aturan itu dilaksanakan. “Kalau bisa ya tahun ini, agar petani bisa segera sejahtera,” tandasnya.

Segera terapkan aturan pembatasan impor tembakau

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat Festival balon udara sambut awal panen tembakau 2019 di Lapangan Butuh, Desa Butuh Kecamatan Kalikajar kabupaten setempat akhir pekan lalu juga meminta agar Kementerian Perdagangan segera menerapkan aturan pembatasan impor tembakau. Karena  petani tembakau sedang melaksanakan panen raya.

“Aturan pembatasan impor tembakau juga  sudah ditandatangani oleh Kementerian Pertanian (Kementan) dan juga sudah disetujui presiden,”  kata Ganjar dalam rilis yang diterima wartawan Pikiran Rakyat, Senin, 29 Juli 2019.

Oleh karena itu tidak ada alasan lagi bagi pemerintah untuk menunda pelaksanaan peraturan tersebut. Menurutnya, saat ini yang harus bertindak dan mengambil sikap adalah Kementerian Perdagangan. “Aturan sudah ada, tinggal sekarang menunggu peraturan pelaksana dari Kementerian Perdagangan. Maka sekarang, Kementerian Perdagangan harus segera mengambil itu, agar ini bisa dilaksanakan secepatnya,” tegasnya.

Apabila pembatasan impor tembakau itu dilaksanakan, maka kebutuhan tembakau nasional dapat dipenuhi dari hasil panen petani Indonesia. Sehingga, saat musim panen seperti ini, para petani tembakau akan memperoleh hasil yang memuaskan. “Ini akan membuat sejarah pertembakauan Indonesia akan bangkit kembali. Kemakmuran petani akan muncul dan mereka akan menikmati hasil jerih payahnya,” tegasnya.***

Sumber: Pikiran Rakyat