Dengan terampil, Usep menggulung puluhan lembar daun tembakau hingga padat. Dia lalu duduk di bangku panjang, serupa bangku yang ada di warung bakso, sembari memasukkan gulungan daun tembakau ke dalam lubang serupa talenan. Pelan namun pasti, pisau seukuran golok di tangan kanannya bergerak, mengiris daun tembakau.

Merajang daun tembakau merupakan keahlian lain yang dimiliki para petani tembakau di Desa Panjiwangi, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut. Nantinya, rajangan daun tembakau akan mereka jemur di atas loyang bambu yang ukurannya sedikit lebih besar dari buku gambar ukuran A1. Mereka menyebutnya sasad.

Hampir seluruh petani di 28 kecamatan di Kabupaten Garut berprofesi sebagai petani tembakau. Lahan yang mereka garap bukan hanya sawah dan sayuran, tetapi juga tembakau. Sebagian hasil panen tembakau memang mereka kirim ke Jawa, tetapi sebagian lagi mereka olah sendiri untuk dijadikan tembakau mole.

Mole merupakan tembakau kering yang dijemur selama kurang lebih 15 hari. Namun sebelum memulai proses penjemuran, daun tembakau perlu dirajang tipis-tipis. Merajangnya pun tak sembarangan, perlu beberapa alat pendukung seperti pisau serupa golok yang disebut rajangan; wahal yang fungsinya serupa talenan namun memiliki lubang besar untuk menahan gulungan daun tembakau; serta bangku kayu yang disebut rimbangan. Biasanya, wahal menyatu dengan rimbangan.

“Gulungan tergantung ukuran daun tembakau, tapi biasanya 25 sampai 30 lembar daun tembakau,” ucap Usep Saefudin kepada Bandung Kiwari.

Sudah puluhan tahun Usep hidup menjadi petani tembakau. Profesi yang menurutnya hadiah dari orang tua dan kakeknya. Sebagai generasi ketiga, lelaki kelahiran 37 tahun lalu ini pun sudah mahir menggunakan rajangan sejak menamatkan pendidikan dasar, lantaran dulu sering membantu orang tuanya.

Proses menjemur tembakau mole di Garut. (Mega Dwi Anggraeni)

Sekarang, keterampilannya itu selalu dia gunakan setiap musim panen daun tembakau tiba. Ketika cuaca sedang bagus, Usep bisa merajang 24 jam non stop. Dimulai sejak pukul 01.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB. Dia hanya istirahat sesekali sembari menikmati camilan, kopi, dan rokok. Kemudian melanjutkan pekerjaannya hingga matahari terbit.

Musim panen tembakau biasanya dimulai sejak awal Juli hingga akhir September. Selama itu, tidak heran jika setiap halaman rumah di Desa Panjiwangi, Kecamatan Tarogong, Kabupaten Garut di penuhi dengan sasad. Berjajar rapi dengan daun tembakau berbagai warna di atasnya. Mulai dari hijau, kuning, kuning kecokelatan, merah, sampai hitam.

Biasanya, tembakau mole dari wilayah ini dijual ke berbagai daerah. Seperti Yogyakarta sampai Malaysia. Harganya pun tergantung kualitas. Untuk tembakau kualitas super mereka hargai Rp 80 ribu per kilogram.

“Warna daun tembakau kualitas terbaik biasanya kuning, ada juga yang warnanya hitam karena diberi gula,” jelasnya. (Mega Dwi Anggraeni)

Sumber: BandungKiwari