Ribuan tumpeng di arak keliling kota Temanggung dan tumpah ruah di Alun-alun Temanggung, kemarin. Puluhan ribu orang juga menjadi saksi atas terselenggaranya gelaranan ‘Wiwit Mbako Merti Bhumi Phala’ pertama kali. Memang sedari pagi, ribuan masyarakat yang mayoritas sebagai petani tembakau dan kopi asal kota tembakau itu telah berduyun-duyun datang dari berbagai penjuru Temanggung.

Dalam gelaran itu, acara dimulai dengan kirab dua gunungan, pertama gunungan tembakau dan satu lagi gunungan hasil bumi lainnya. Kirab dimulai dari komplek kantor Bupati Temangung melewati Tugu Jam, Pasar Kliwon, dan berakhir di panggung utama di sisi utara Alun-alun Temanggung. Bupati Temangung, Muhammad Al Khadziq dan Wakil Bupati Temanggung, R Heri Ibnu Wibowo, ikut memikul gunungan tembakau, di deretan paling depan.
 
Usai prosesi arak-arakan, dua gunungan sampai di panggung utama, KH Haidar Muhaimin, memimpin istighosah dan mujahadah. Turut hadir di panggung utama, Mantan Bupati Temanggung, KH Hasyim Afandi, Kapolres Temanggung, AKBP Wiyono Eko Prasetyo, Komandan Kodim (Dandim) 0706/Temanggung, Letkol Infanteri AY David Alam, serta perwakilan forum koordinasi pimpinan daerah (Forkopimda) lainnya.

Bupati Al Khadziq menjelaskan, digelarnya ‘Wiwit Mbako Merti Bhumi Phala’ bertujuan membangun kebersamaan antara para petani, pedagang, garder, serta pabrikan tembakau. Sebab, dalam dunia pertembakauan antara satu dengan yang lain saling terkait satu sama lain. “Hari ini, kita berdiri sama tinggi duduk sama rendah, antara petani, pedagang, grader, industri tembakau dan pemerintah,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, mereka makan ingkung bareng, disertai niat untuk memperbaiki dunia pertembakauan di Temanggung. Menurutnya, satu sama lain dalam dunia pertembakauan saling terkait, berkelit kelindan. Tak bisa berdiri sendiri-sendiri. Petani membutuhkan pedagang, grader. Sebaliknya, pabrik rokok juga membutuhkan mereka semua. Tidak bisa satu sama lain tak bekerjasama.

Dunia pertembakauan Temanggung saat ini, kata dia, semakin hari semakin menurun akut. Tak menguntungkan semua pihak. Itu lantaran tak ada kerja sama yang baik, masing-masing saling salah-menyalahkan antar unsur dalam dunia pertembakauan.

“Ayo, sama-sama instrospeksi. Mungkin di kalangan petani ada yang tidak pas, di kalangan pedagang juga ada praktik-praktik culas, atau dari kalangan grader dan industri demikian pula. Mari kita luruskan bersama-sama,” ujarnya.

Untuk memurnikan tembakau Temanggung, Al Khadziq ingin semua pihak dalam dunia pertembakauan di Temanggung bersama pemerintah daerah kembali ke trek yang lurus. Sebagai upaya mengulang kembali kejayaan tembakau Temanggung pada era 1970-an hingga 1980-an. “Mari sama-sama punya niat dan tekad memurnikan tembakau Temanggung,” ajaknya.

Karena selama ini banyak tembakau Temanggung yang dicampur-campur dengan tembakau dari daerah lain. Pun juga, dicampur dengan macam-macam bahan lain, semisal gula. Menurutnya, dengan kembali pada trek yang lurus, kepentingan semua pihak terkait dalam pertembakauan akan terlindungi. “Kita ingin kepentingan petani terwujud, kepentingan pedagang, grader, industri terwujud. Tak yang saling dikalahkan,” kata dia.

Al Khadziq mengatakan, wiwit mbako juga sebagai destinasi wisata budaya. Slametan wiwit tembakau yang tersentral di kabupaten, baru kali ini terlaksana. Sebelumnya, sambung dia, masing-masing desa atau kelompok tani menggelar acara serupa secara mandiri di wilayah masing-masing, dalam waktu tak berbarengan. Ke depan, ia ingin acara ‘Wiwit Mbako Merti Bhumi Phala’ bisa terus dilaksanakan rutin tiap tahun.

Tanpa menghilangkan tradisi yang sudah berlangsung di masing-masing desa atau wilayah di berbagai penjurut Temanggung. “Animo masyarakat begitu tinggi, mereka bersemangat berduyun-duyun datang, kita akan berusaha mewujudkan acara ini rutin digelar tiap tahun,” ucapnya.

Ia pun berkeinginan, agar acara ini layak menjadi destinasi wisata budaya di Kota Tembakau.

Syaratnya, kata dia, acara ini harus rutin digelar tiap tahun. “Pasti ingin menjadikan ini destinasi wisata budaya. Selain ini punya fungsi untuk mempersatukan masyarakat dan kritik-otokritik terhadap dunia pertembakauan di Temanggung, juga kalau bisa nanti bisa jadi event kultural yang bisa jadi kunjungan wisatawan,” ujarnya.***

Sumber: Suara Merdeka