Tembakau Siluk, adalah jenis tembakau lokal  Pedukuhan Siluk, Selopamioro, bantul, Yogyakarta, yang dipersilangkan dengan tembakau jenis virginia, sebagai upaya petani untuk menghasilkan bibit yang baik dan hasil yang banyak. Karena mereka menggantungkan penghasilan terbesarnya dari tembakau.

Pernah dengar Tembakau Siluk ? Tembakau lokal yang dibudidayakan secara masal oleh warga Pedukuhan Siluk, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sejak tahun 2012.

Tembakau Siluk adalah sebuah upaya para petani di tembakau di daerah ini, untuk memproleh bibit tembakau yang unggul, dan memberi hasil yang banyak.

Sugeng, salah seorang petani Tembakau Siluk, mengatakan, tembakau ini muncul pada tahun 2012. Tembakau ini merupakan rekayasa genetik yang dilakukan petani didampingi pemerintah setempat, untuk memunculkan bibit tembakau lokal.

“Tembakau Siluk memiliki ciri khas yang membedakan dengan tembakau lain, daun yang lebih tebal, tinggi pohon bervariasi, ukuran daun tidak begitu lebar, serta setiap batang memiliki 18 hingga 21 helai daun,” terang Sugeng.

Sugeng menambahkan keistimewaan Tembakau Siluk akan semakin nampak setelah daun tembakau diolah.

“Setelah diolah daun tembakau siluk akan tampak merah kehitaman, berbeda dengan tembakau pada umumnya yang kecoklatan. Selain itu aroma dari tembakau siluk mirip seperti makanan tradisional wajik yang manis layaknya gula jawa,” terangnya.

Dengan rasa dan aroma yang berbeda dari tembakau lain, Tembakau Siluk sangat diminati masyarakat. Sugeng bahkan mengatakan dulunya Tembakau Siluk sering digunakan pabrik-pabrik besar meskipun sekarang sudah tidak lagi.

Terkait rasa dan aroma unik tembakau siluk ternyata tidak terlepas dari tradisi unik penanaman tembakau siluk itu sendiri.

Martiah, petani tembakau siluk mengatakan bahwa sebelum menanam tembakau siluk harus disiapkan wajik terlebih dahulu. Menurutnya hal ini adalah tradisi dari zaman dahulu.

“Sebelum menanam itu harus disiapkan wajik dulu untuk dibawa ke ladang dan didoakan sekitar lima menitan.” Ujarnya.

Martiah menilai mungkin hal inilah yang menyebabkan tembakau siluk memiliki aroma, rasa dan warna yang menyerupai wajik.

Tembakau siluk sendiri kini mampu menembus harga Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram. Pada musim panen sendiri petani mampu meraih hasil hingga 8 ton per hektarenya.

“ Saat ini di Desa Selopamioro sendiri terdapat lebih dari 100 petani yang lebih memilih menanam tembakau ketimbang tanaman lain,”  ungkap Keman Riyanto.

Keman menambahkan,  menanam tembakau sudah menjadi tradisi turun temurun sehingga sulit untuk ditinggalkan.

“Meskipun menanam tembakau hanya bisa setahun sekali, namun hasilnya bisa untuk mencukupi kehidupan petani,” ungkapnya.***

Sumber: JogjaInside