Razia dan perampasan buku di sejumlah toko buku oleh aparat negara menimbulkan kemarahan para pecinta literasi di Bandung. Para pegiat literasi pun turun ke jalan menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap razia buku atas dalih apa pun.

Mereka yang kebanyakan anak muda, jumlahnya sekitar 20 orang, bergabung dalam aksi Kamisan di depan Gedung Sate, Bandung. Aksi berpayung hitam dengan tagline “Menolak Lupa” kasus pembunuhan pejuang HAM Munir itu setiap hari Kamis memang biasa digelar di depan gerbang kantor Pemerintah Privinsi Jawa Barat itu.

Satu per satu para pegiat literasi melakukan orasi di pinggir Jalan Diponegoro. “Al Quran menyuruh kita membaca, dengan menyita buku mereka justru menistakan agama,” kata penulis dan pegiat literasi, Jalu Kancana, dalam orasinya, Kamis (24/1/2019) lalu.

Jalu mengatakan, buku merupakan kekayaan intelektual yang tidak boleh dirazia, dilarang, apalagi dimusnahkan. Adanya pelarangan dan razia buku, menurutnya akan semakin membangkitkan perlawanan para pegiat literasi. “Menulis adalah melawan, sampai kapan pun,” ucapnya.

Para peserta orasi menilai, penyitaan buku yang terjadi di berbagai daerah sebagai cara-cara kuno, memaksakan, ketakutan berlebih dan miskin imajinasi dalam menghadapi buku yang dituding mempromosikan Partai Komunis Indonesia.

Di tengah maraknya anak-anak muda yang giat menyematkan gerakan literasi dengan mencoba membangun perpustakaan alternatif dan otonom, aparat negara justru malah makin giat memangkas harapan para anak muda tersebut untuk terus berkembang demi memenuhi ilmu pengetahuannya.

Razia buku juga dinilai sebagai “ironi dan dagelan paling menyebalkan sepanjang sejarah”.

“Tindakan yang justru semakin memiskinkan pengetahuan dan melanggengkan kebodohan ini tak bisa didiamkan.”

Orator lainnya dari klab baca Asia Afrika Reading Club (AARC), Galih. Dia mengaku sangat mengecam dengan penyitaan buku yang dilakukan aparat negara di sejumlah toko buku. Penyitaan justru terjadi di tengah kemajuan teknologi yang menuntut pentingnya budaya baca.

Ia lalu mengutip sastrawan Pramoedya Ananta Toer. “Kata Pram, penyitaan buku dilakukan manusia lancing, yaitu orang yang berperadaban rendah,” katanya.

Ia menyatakan, suatu peradaban dilihat dari budaya baca. Makin tinggi budaya baca makin tinggi pula suatu peradaban.

Ia bahkan menyatakan, pertahanan terakhir suatu bangsa bukanlah militer, melainkan budaya literasi. Sehingga ironis jika di era teknologi tinggi ada pelarangan membaca buku yang merupakan pelarangan penyebaran ilmu pengetahuan. “Saya marah di era teknologi seperti ini ilmu pengetahuan dilarang,” tukasnya.

Razia buku telah memancing para pegiat literasi untuk melawan. Orang-orang yang sehari-hari bergelut dengan buku di ruang-ruang perpustakaan maupun diskusi, tergerak untuk protes terhadap aparat negara yang melakukan penyitaan di sejumlah toko buku akhir-akhir ini.

Melalui aksi Kamisan itu, mereka juga menggelar lapak buku di depan gerbang Gedung Sate yang terkunci rapat. Acara diwarnai penampilan musik akustik. Semua rangkaian acara Kamisan tersebut menyuarakan perlawanan terhadap penyitaan buku oleh aparat negara.

Mereka menyuarakan “Terus rawat kewarasan, Lawan pembodohan”, mengusung tagar #LawanPenyitaanBuku #JanganBakarBuku #BukuItuDibacaBukanDisita, dan lain-lain.Peserta aksi berasal dari individu, dosen, penulis; juga komunitas baca seperti Asia Afrika Reading Club, Perpustakaan Jalanan Bandung, Komunitas Ruang Hidup, IPT 1965 Bandung, Perpus Banjaran, Metaruang. Komunitas ini merupakan wadah pecinta buku yang otonom dalam melakukan gerakan literasi di Bandung, tanpa dibiayai sepeser pun dari pemerintah yang sering mengklaim ingin meningkatkan minat baca. [Iman]