Sudah dua tahun pandemi covid-19 melanda Indonesia. Ekonomi negara pun perlahan semakin menurun. Begitu juga daya beli masyarakat yang mengharuskan mereka kreatif di kala pandemi masih berlangsung.

Konsumsi tembakau pabrik pun mulai teralihkan menjadi konsumsi tembakau langsung dari petani, Walau masih banyak masyarakat yang setia dengan tembakau pabrik, akan tetapi dengan hadirnya toko-toko tembakau yang sudah menjamur di kota-kota besar.

Hal ini menjadikan alternatif pilihan masyarakat yang ingin ngebul dengan harga yang terjangkau.

Lihat saja aktivitas di Pasar Tembakau Tanjungsari Kabupaten Sumedang. Tampak tembakau iris ditumpuk di setiap toko yang nantinya dijadikan sebagai bahan baku produk hilir tembakau linting dan rokok.

Berjarak sekitar 50 meter dari Alun-alun Tanjungsari, Sumedang, Pasar Tembakau Tanjungsari biasa dibuka dua kali dalam sepekan, yakni tiap Selasa dan Sabtu.

Pengunjung yang datang ke sana berasal hampir dari seluruh daerah di Indonesia. Sampai stakeholder tembakau dari negara tetangga, seperti Brunei Darussalam hingga Malaysia.

Tembakau yang tersedia di pasar itu beragam dari beberapa daerah penghasil tembakau di Indonesia. Namun, biasanya kebanyakan tembakau asal Jawa Barat semisal tembakau Tanjungsari, Darmawangi, Bantarujeg, Garut, dan yang lainnya.

Harga tembakaunya pun beragam, tembakau dihitung berdasarkan satuan kilogram dan per lempeng. Biasanya, tembakau mole khas Jawa Barat dijual per lempeng. Setiap lempeng biasanya memiliki berat sekitar 250 gram, Harga dibedakan dari kualitas juga rasa tembakaunya, jenis irisan dan daerah penanaman.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) mengatakan Pasar Tembakau Tanjungsari merupakan salah satu pasar tembakau berskala internasional.

“Selain pasar tembakau Tanjungsari, ada dua pasar tembakau lain yang juga berskala internasional. Keduanya yakni, pasar tembakau di Medan, dan pasar tembakau Bremen, Jerman,” kata Suryana.

Di Jawa Barat sendiri, kata dia, terdapat beberapa daerah yang dikategorikan sebagai lumbung tembakau. Total ada sebanyak 17 Kabupaten/kota di Jawa Barat yang merupakan penghasil tembakau. Namun, hanya 5 daerah saja yang dikategorikan sebagai lumbung tembakau.

“Lumbung tembakaunya ada di 5 kabupaten, yakni di Sumedang, Garut, Kabupaten Bandung, Majalengka dan Kuningan. Yang lain itu ada tapi tidak seluas yang lima itu di kisaran antara paling rendah 30 hektar sampai paling tinggi sekitar 170 hektar,” katanya.

Tak terasa hari sudah menjelang sore dan penulis harus kembali ke kota asal, Depok. Setiba di kota ini penulis menyambangi sebuah toko yang menjual tembakau di daerah Cagar Alam kelurahan Depok Lama.

Taufik (54) karyawan Bank Nasional menjelang pensiunnya memilih untuk berjualan tembakau.

“Toko saya baru buka dua bulan, dan Alhamdulillah animo masyarakat khususnya perokok memang sudah terbentuk bahwa tembakau non pabrik lebih murah dari pada rokok pabrik, jadi dalam sehari saya bisa mendapatkan Rp. 200-300 ribu,” katanya.

“Merokok konsumsi tembakau petani lebih hemat dan terjangkau daripada konsumsi produk rokok pabrik, dan mengkonsumsi tembakau petani bisa mengurangi kita dalam mengkonsumsi tembakau”, jelas Topik.

”Rokok pabrik itu kan sudah jadi, dan kita yang perokok benar-benar dipermudah, coba kalau konsumsi tembakau petani, harus melinting dulu, yang ada kalau mau merokok ya harus bikin dulu, dan bila malas berarti ngga jadi kan ngerokoknya,” imbuhnya. (sumber: ayoindonesia.com)