“Ketika petani menanam tembakau dengan hati (cinta), ada sosok berjas hitam menyirami petani dengan racun,” katanya.

SEMARANG- Hari ini pameran kartun tembakau bertajuk “International Tobacco Cartoon Exhibition 2017” resmi dibuka. Pameran berlangsung selama dua hari, 20-21 November 2017 di Wisma Perdamaian Semarang.

Pameran kartun tembakau merupakan serangkaian kegiatan peringatan World Tobacco Grower’s Day 2017 yang diselenggarakan oleh Gold Pencil bekerjasana dengan  Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) dan Serikat Pekerja Lintas Media (SPLM) Jawa Tengah.

Seorang pengunjung sedang menikmati Pameran International Cartoon Exhibition 2017

Ketua Gold Pencil, Abdul Arif mengatakan ada sebanyak 100 kartun tema Petani Tembakau yang dipamerkan. Karya itu merupakan hasil seleksi dari 609 karya dari 350 kartunis dari 35 negara yang diterima panitia.

“Karya yang dipamerkan ini melalui seleksi ketat. Terutama menyangkut tema pameran,” katanya, Senin (20/11/2017).

Pameran tersebut, kata Arif, mengangkat tema “Save The Tobacco Growers (Selamatkan Petani Tembakau)”. Menurut dia, meski sudah ditentukan tema, masih ada segelintir kartunis yang mengirim karya tidak sesuai yang diharapkan.

“Ini wajar mengingat tema yang kita angkat cukup sensitif,” katanya.

Adapun seleksi karya pameran melibatkan  kartunis senior Semarang, Jitet Koestana dan Suratno. Seleksi telah dilakukan pada Jumat (17/11/2017). Menurut Jitet, kebanyakan karya yang masuk berkualitas. Yang menurutnya paling menarik adalah fenomena anak-anak SMP yang ikut masuk seleksi.

“Mereka menyajikan tema petani tembakau dalam kemasan kartun yang cerdas. Padahal masih belia,” katanya.

Salah satu karya peserta menyampaikan kritik secara santun, ketika penduduk bumi telah tidak ramah lagi, petani mulai menggarap sawah di bulan.

Selain menentukan 100 karya pilihan, pameran kartun tembakau kali ini juga merilis 10 kartunis dengan karya terbaik. Mereka yaitu Vikram Nayak (India), Alexander Dubovsky (Ukraina), Oleksy Kustovsky (Ukraina), Musa Gumus (Turki), Luka Lagator (Montenegro), Arturo Rosas (Mexico), Lintang Dwi Pudyastuti (Indonesia), Jajak Ary Nugroho (Indonesia), Dien Yodha (Indonesia), dan Achmad Cholid (Indonesia).

Jitet mengatakan, karya Musa Gumus asal Turki sangat cerdas. “Ketika petani menanam tembakau dengan hati (cinta), ada sosok berjas hitam menyirami petani dengan racun,” katanya.

Ada juga ide di luar dugaan, yaitu tembakau ternyata lebih berharga daripada emas. Karya Jajak juga menampilkan pesan yang cemerlang. Ternyata petani punya kartu As berupa daun tembakau. Kartu As adalah lambang kemenangan. “Artinya lebih menang petani daripada orang yang bertentangan dengan petani. Bisa pemerintah atau yang tidak suka dengan petani,” katanya.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Soeseno mengatakan peringatan petani tembakau dunia mustinya diperingati setiap 29 Oktober. Biasanya dimeriahkan dengan pawai budaya. “Tahun lalu kita mobilisasi petani tembakau hingga ribuan,” katanya.

Tahun ini, ada serangkaian acara salah satunya International Tobacco Cartoon Exhibition 2017.  “Saya lihat ini menarik dan menggelitik. Karya ini akan kami bawa ke dunia internasional. Petani Indonesia adalah bagian dari International Tobacco Growers Association,” katanya. (Ratna Dewi Amarawati)