Datanglah ke Kabupaten Sumedang , Jawa Barat sehabis petani memanen padi. Di salah satu kecamatan, Kecamatan Tomo, petani akan beralih menanam tembakau mole. Itulah kegiatan yang berjalan lebih dari seabad. Menurut Emen Rahman, pekebun tembakau mole, ia dan warga lain hanya mengikuti kebiasaan nenek moyang

Tembakau mole yang ditanam memang istimewa. Nicotiana tobacum itu merupakan jenis tembakau lokal yang bercitarasa dan beraroma khas. Aromanya tembakau mole tajam, tetapi terasa lembut.

Kecamatan Tomo sohor sebagai produsen tembakau mole putih. Mole putih merupakan rajangan daun tembakau yang dijemur sehari. Bila tembakau tersebut dijemur sampai 7 hari, warnanya menjadi kemerahan atau kehitaman dan dipanggil sebagai mole merah atau mole hitam. Rasa tembakau mole merah dan hitam lebih keras sehingga cocok untuk perokok kelas berat.

Sentra tembakau mole merah dan hitam berada di Kecamatan Pamulihan, Rancakalong, dan Tanjungsari. Sejatinya Kabupaten Sumedang merupakan salah satu daerah penghasil tembakau di Jawa Barat selain Kabupaten Garut dan Kabupaten Majalengka.

Menurut Emen, petani di Kecamatan Tomo menanam tembakau di lahan 0,5-1 ha. Populasi setiap ha mencapai 14.000 tanaman dengan jarak tanam 70 cm x 80 cm. Populasi itu lebih sedikit dibandingkan tembakau lain seperti Virginia yang dapat mencapai 18.000 tanaman/ha. Jumlah sedikit itu lantaran daun tembakau mole lebih lebar.

Tembakau mole memang istimewa. Bagi petaninya terkenal pameo, bako mah hirup sapoe, paeh sapoe atau tembakau itu hidup sehari dan mati pun sehari. Maksudnya kualitas mole bergantung kepada penjemuran pertama setelah panen.

Bila penjemuran mendapatkan sinar matahari cukup sehingga daun kering sempurna, kualitas tembakau masuk kelas satu. Namun sebaliknya, jika penjemuran tak cukup, terhalang cuaca mendung, daun masih terasa lembap dan kualitas mole dinilai rendah.

Mutu berdampak pada harga jual. Saat ini kualitas kelas satu bisa mencapai Rp50.000/kg; rendah Rp15.000/kg. Daun yang telah kering siap dirajang. Perajangan lazim dilakukan mulai pukul 23.00-09.00 WIB. Mayoritas perajang adalah pria, sedangkan perempuan mengiris, sehingga ada ungkapan usaha tembakau mole untuk orang beristri.

Perajangan dilakukan dengan cara mengulung 20 daun sekaligus lalu dimasukkan ke dalam lubang alat perajang yang menghasilkan ketebalan irisan 0,5-1,0 mm. Hasil rajangan itu kemudian dijemur kembali memakai sasag (alat penjemur) yang memuat rajangan 60 lembar daun.

Hasil rajangan itu dijual sebagai isi rokok tingwe. Tingwe merupakan kependekan dari linting dewe alias meracik rokok sendiri memakai kertas pahpir. Salah satu merek generik rajangan tembakau mole yang dijual adalah Cap Perahu. Kebiasaan melinting rokok dengan isi tembakau dianggap lebih murah dan lebih nikmat. Sebab orang dapat mencampur sendiri tembakau dengan berbagai rempah yang disukai, seperti cengkeh atau damar.***

Sumber: bebeja