Tembakau aneka rasa dan kemasan menarik mata adalah salah satu inovasi yang dilakukan Nedi Sopian untuk mengubah image tembakau.

Paperka atau Paguyuban Perokok Kawung, merek yang diusung Nedi untuk memasarkan tembakaunya. Tembakau iris yang dia beli langsung dari petani tersebut kemudian diolahnya dengan menggunakan perasa makanan.

Hasilnya, aroma yang keluar dari tembakau Paperka pun seharum makanan atau minuman. Selain itu, ada juga sedikit rasa sesuai dengan perasa makanan yang dia gunakan.

Upaya Nedi Sopian mengembangkan prodak tembakau lintingnya, tidak hanya mencari keuntungan. Menurutnya, melinting tembakau bisa dijadikan proses komunikasi.

Nedi mengatakan, saat berkumpul, orang cenderung sibuk dengan gadgetnya. Namun adanya tembakau linting, membuat masyarakat mampu meninggalkan gadget sementara. “Di sana bisa terjalin komunikasi,” katanya.

Ia menambahkan, jika ada yang penasaran dengan tembakau, kita bisa menjelaskan atau menceritakan tembakau. Sedangkan jika ada yang tidak bisa melinting, kita bisa membantunya melinting.

Pola komunikasi ringan itulah, yang jarang Nedi temukan di masyarakat urban. Dia berharap, kembalinya tembakau iris atau tembakau linting, pola tersebut bisa kembali hidup.

“Sebenarnya, di toko ada alat melinting. Tapi kemudian itu dijadikan contoh yang tidak baik,” kata Nedi.

Setiap ada tamu yang datang ke toko dan ingin membeli alat melinting, Nedi selalu menjelaskan, alat tersebut mengandung lem. Lem ikut terbakar ketika dihisap bersama lintingan tembakau.

Lebih lanjut, Nedi menjelaskan, biasanya orang kerap menyebut istilah ‘adu bako’, ketika berkumpul sembari mengisap tembakau. Namun, adu bako bukan hanya masalah mengisap tembakaunya saja.

“Melinting tembakau, mencampur tembakau, juga bagian dalam istilah tersebut,” ujarnya.

Sedikit menjelaskan tentang mencampur tembakau, Nedi mengatakan, setiap tembakau iris bisa dicampur sesuai selera atau sekadar untuk eksperimen rasa. Seperti yang dia terapkan kepada Paperka. Dalam satu prodak, Nedi mencampur dua sampai tiga tembakau dari beberapa daerah di Jawa Barat. Setelah itu, baru meraciknya dengan perasa makanan.

“Nah, beberapa rasa tembakau Paperka itu juga bisa dicampur-campur. Misal, pisang dengan bluberry jadi bagaimana? Itu juga bisa disebut ngadu bako,” katanya.

Nedi memulai usaha meracik tembakau sejak tiga tahun lalu. Dari hanya meracik 500 gram, kini dia bisa meracik tembakau berkilo-kilo dengan dibantu empat pegawainya. Bukan itu saja, kini Nedi pun memiliki 28 varian rasa tembakau yang sudah tersebar ke beberapa penjuru kota besar di Indonesia. Mulai dari Jakarta, Sumatera, Jawa, beberapa daerah di Kalimantan, hingga Bali.***