Meski saat ini sudah masuk era industri digital atau industri 4.0 tapi pemerintah tidak akan meninggalkan industri sebelumnya, salah satunya adalah industri sigaret kretek tangan.

Hal itu disampaikan Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto saat mengunjungi para pekerja sigaret kretek tangan di Mitra Produksi Sigaret (MPS) Tani Mulyo di Desa Karanglangit, Kecamatan Lamongan Jawa Timur, Sabtu (16/3/2019). 

“Industri rokok juga dapat dikatakan sebagai sektor kearifan lokal yang memiliki daya saing global,” kata Airlangga.

Selama ini, menurut Menperin, industri rokok di dalam negeri telah meningkatkan nilai tambah dari bahan baku lokal berupa hasil perkebunan seperti tembakau dan cengkeh. Sektor padat karya dan berorientasi ekspor inipun menyumbangkan pendapatan negara cukup signfikan melalui cukai.

Sepanjang 2018, penerimaan cukai rokok menembus hingga Rp153 triliun atau lebih tinggi dibanding perolehan di 2017 sebesar Rp147 triliun. Penerimaan cukai rokok pada tahun lalu, berkontribusi mencapai 95,8 persen terhadap cukai nasional.

Untuk itu, Kementerian Perindustrian memberikan apresiasi kepada paguyuban MPS, sebagai wadah yang menaungi 38 perusahaan produsen Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan bermitra dengan PT HM Sampoerna. Mereka yang berlokasi di Jawa Timur dan Jawa Tengah ini mampu memproduksi 15 miliar batang per tahun dengan mempekerjakan karyawan lebih dari 40 ribu orang.

“Keberpihakan pemerintah saat ini terhadap industri SKT sangat jelas, sehingga pekerjaan (linting rokok kretek) itu ada terus dan berkelanjutan. Kita pun lihat mereka masih bertahan di tengah era industri 4.0. Karena di Indonesia, penerapan teknologi industri 4.0 berjalan secara paralel dan harmonis dengan industri yang menggunakan teknologi sebelumnya,” tutur Airlangga.

Dalam kunjungan itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto disambut oleh Bupati Lamongan, Fadeli, Ketua Paguyuban Mitra Produksi Sigaret Indonesia (MPSI), dan Joko Wahyudi. ***