Tembakau (Nicotiana tabacum) adalah salah satu tanaman nonpangan yang paling banyak dibudidayakan di seluruh dunia dan ditanam di 120 negara. Lebih dari 75 spesies Nicotiana yang terdapat secara alam, termasuk 49 spesies asli Amerika dan 25 spesies asli Australia menurut laman Nature.

Penggunaan tembakau telah didokumentasikan selama lebih dari 8.000 tahun. Budidaya tembakau kemungkinan besar dimulai pada 5000 SM dengan perkembangan pertanian berbasis jagung di Meksiko Tengah.

Di awal sejarah tembakau, Swedish.org menyebutkan tembakau digunakan sebagai obat untuk semua penyembuhan, untuk membalut luka, mengurangi rasa sakit, dan bahkan untuk sakit gigi. Pada akhir abad ke-15, Christopher Columbus diberi tembakau sebagai hadiah dari penduduk asli Amerika.

Tembakau langsung populer di Eropa, karena mereka percaya bahwa tembakau memiliki kekuatan penyembuhan yang ajaib. Segera kemudian, merokok tembakau dipromosikan sebagai cara yang layak untuk mendapatkan “dosis tembakau harian”.

Pada awal abad ke-17, ilmuwan dan filsuf menemukan konsekuensi yang ditimbulkan oleh rokok terhadap kehidupan mereka, termasuk kesulitan bernapas dan kesulitan berhenti.

Akhirnya selama 20 tahun terakhir, rokok telah mengalami banyak perubahan. Rokok sekarang mengandung lebih banyak bahan berbahaya daripada sebelumnya, dan industri tembakau telah secara drastis meningkatkan strategi pemasaran mereka, menargetkan populasi baru dan beragam, termasuk anak-anak.

Namun ternyata, tanaman tembakau lebih dari sekadar pengisi rokok, meski tak dapat disangkal salah satu penyebab kematian dini dan penyakit yang paling bisa dihindari di dunia.

Menurut sebuah studi baru, tanaman tembakau, Nicotiana, diduga mengandung potensi terapeutik yang kuat untuk mengobati kondisi seperti diabetes tipe-2, stroke, demensia, artritis, secara lebih efektif dan dengan harga yang terjangkau menurut laman Science Daily.

Berikut manfaat tembakau bagi kesehatan yang perlu diketahui dirangkum dari laman realliving:Meredakan alergi
Manfaat tembakau yang pertama yaitu dapat meredakan alergi. Tapal daun tembakau dapat digunakan untuk mengoleskan radang kulit dapat membantu meredakan gatal dan nyeri ringan. Nikotin dalam tembakau bertanggung jawab untuk mengeluarkan alergen dan memperbaiki kulit hingga kembali normal.

-Berikan pertolongan pertama pada luka kecil

Manfaat tembakau berikutnya yaitu memberikan pertolongan pertama pada luka kecil. Jika tidak ada yodium topikal, Anda dapat menggunakan tembakau yang telah dihaluskan untuk menjaga agar luka segar tidak menyengat. Cukup basahi daun dengan sedikit air dingin untuk membentuk pasta dan oleskan ke area yang terkena.

-Bersihkan saluran hidung

Manfaat selanjutnya yaitu membersihkan saluran hidung. Sebagai obat rumahan untuk masuk angin, penduduk asli Amerika biasa merebus tembakau dengan sage gurun dan menghirup uapnya atau mengasapi daunnya untuk membersihkan paru-paru.

Mereka juga percaya bahwa itu membantu penderita asma dan tuberkulosis bernafas lebih baik.

-Diduga Bisa Cegah Diabetes

Menurut para peneliti di University of Western Ontario dan Lawson Health Research Institute di Kanada, manfaat tembakau dapat digunakan untuk menghasilkan protein anti-inflamasi dalam jumlah besar yang disebut Interleukin 37, atau IL-37 – yang diproduksi secara alami di ginjal manusia jumlah kecil. Protein ini telah ditunjukkan dalam model praklinis untuk mengobati berbagai macam penyakit inflamasi dan autoimun secara efektif.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Plant Cell Reports ini menunjukkan bahwa tanaman tembakau dapat membuka jalan untuk memberikan perawatan yang efektif dan jauh lebih terjangkau daripada metode saat ini.

Sebelumnya, para ilmuwan di University of Central Florida biomedical menemukan bahwa insulin suatu hari nanti dapat ditanam di tanaman yang dimodifikasi secara genetik, termasuk tanaman tembakau. Kemudian manfaat tembakau ini digunakan untuk mencegah diabetes sebelum gejala muncul atau untuk mengobati kondisi tersebut pada tahap selanjutnya.

Dalam studi ini, tim ilmuwan yang dipimpin oleh Profesor Henry Daniell, merekayasa tanaman tembakau secara genetik dengan gen insulin dan kemudian memberikan sel tanaman yang dibekukan kepada tikus diabetes sebagai bedak selama delapan minggu.
Hasil dari penelitian mereka, yang dilaporkan dalam Plant Biotechnology Journal, menunjukkan bahwa tikus diabetes memiliki kadar gula darah dan urin yang normal, dan sel mereka memproduksi insulin dalam tingkat normal. (Sumber berita: Merdeka.com)