Waktu berbuka puasa merupakan momen yang sangat dinanti oleh masyarakat muslim yang tengah menjalankan ibadah berpuasa. Dari waktu ke waktu, penanda berbuka puasa juga bergeser menjadi serba modern, yakni cukup dengan mendengarkan informasi dari siaran radio maupun televisi.

Namun, bagaimana sih penanda buka puasa pada zaman dulu? Di Kota Tegal sendiri ada tradisi penyalaan plenong dem atau petasan yang dinyalakan di halaman Masjid Agung Kota Tegal jelang waktu berbuka.

Sejarahwan Pantura, Wijanarto mengatakan, plenong dem eksis di tahun 1950 hingga tahun 1980-an. Masyarakat sekitar akan berbondong-bondong untuk menyaksikan plenong dem. “Jadi apabila sudah memasuki waktu berbuka puasa, di halaman Alun-alun Kota Tegal akan dinyalakan plenong dem atau petasan yang meledak di angkasa dan menimbulkan suara ‘dem’,” jelasnya belum lama ini.

Menurutnya, plenong artinya meluncur ke atas dan dem artinya bunyi suara yang menggelegar. “Itulah penanda buka puasa zaman dulu. Jadi bukan bedug bukan sirine tapi petasan yang dinyalakan di halaman Masjid Agung Kota Tegal,” ucapnya.

Dikatakan Wijanarto, penggunaan petasan sebagai penanda buka puasa telah diijinkan oleh Kemenag Republik Indonesia Serikat No. KP/2607/50 tertanggal 16 Juni 1950. Setelah adanya plenong dem dilanjutkan dengan menabuh bedug azan magrib dan disusul sirine dari Balai Yasa.

Sirine dari Balai Yasa atau sekarang Poltek Keselamatan Transportasi Jalan Tegal menjadi pengganti plenong dem. Baru pada tahun 1983, plenong dem mulai berhenti karena ada renovasi masjid Agung Tegal dan juga karena faktor keamanan.

“Sirine Balai Yasa juga digunakan untuk penanda waktu Imsak,” ujarnya. (Lilisnawati)