Kalau rokok membunuhmu, mestinya gula juga membunuhmu. Karena gula juga menyebabkan diabetes.

Seorang buruh bernama Nuryanti, 34, warga Jambearum, Patebon, Kabupaten Kendal, merasa sedih mendengar pemerintah Jokowi akan menaikkan cukai rokok. Dia meminta Presiden mendengarkan aspirasi rakyat kecil yang saat ini bergantung di industri kretek Indonesia.

Menurut dia, saat ini pemerintah mengeluarkan kebijakan mengancam jutaan rakyat kecil yang menggantungkan hidup di produk tembakau dan turunannya. Dia menilai bahwa pemerintah hanya mencari untung dari pajak-cukai rokok belaka. Tetapi rakyat kecil yang menjadi mata rantai dalam industri tersebut dalam bahaya karena terancam terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Saya cuma ingin curhat. Saya mantan TKI, sejak 2006, saya pulang dari luar negeri dan bekerja di sini (menjadi pelinting rokok kretek). Tembakau menghidupi rakyat kecil, saya sangat bersyukur bisa bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Setelah bekerja di sini, saya tidak perlu lagi menjadi TKI yang jauh dari keluarga,” kata Nuryanti, kata salah satu buruh pelinting kretek, Kamis (10/11/2017).

Namun, belakangan ini, Nuryanti bersama teman-temannya merasa risau atas munculnya kebijakan pemerintah yang dinilai mengancam masa depan para buruh. “Yang merisaukan adalah kebijakan pemerintah dengan menaikkan cukai rokok itu kebijakan egois. Rokok selalu salah. Kenapa (pemeritah menyebarkan) iklan rokok membunuhmu (di bungkus rokok). Saya heran, kenapa kematian dihubungkan dengan rokok. Kalau ajal tiba kan meninggal juga (bukan meninggal karena rokok),” katanya.

Dia juga meminta agar pemerintah bijak menangani masalah ini. Tidak menaikkan cukai secara tidak wajar. Kalau cukai naik, tentu akan memengaruhi produksi rokok menurun. Kalau produksi rokok menurun, maka akan ada banyak buruh di-PHK. “Tolong sampaikan ke bapak-bapak yang di sana (pemerintah). Kalau rokok membunuhmu, mestinya gula juga membunuhmu. Karena gula juga menyebabkan diabetes. Tapi gula tidak diberi label gambar mengerikan (seperti ancaman di bungkus rokok). Saya tak habis pikir,” katanya.

Ia meminta agar aspirasi rakyat kecil ini bisa didengarkan para pejabat yang membuat kebijakan, bahkan hingga presiden. “Saya ini perempuan dan menjadi tulang punggung keluarga, janda, dan suami meninggal. Kami minta ini disampaikan ke pemerintah. Jangan (kampanye anti tembakau/rokok) mengatasnamakan perempuan dan anak,” katanya.

Senada, buruh lain, Tri Setyawati, juga mengkhawatirkan rencana kenaikan cukai naik, akan mengakibatkan harga rokok naik. Kalau harga rokok naik, maka produksi rokok menurun. Dampaknya adalah pengurangan tenaga kerja. Padahal dengan dinaikkan harga rokok sekalipun tidak akan mengurangi jumlah konsumen rokok. Hanya saja konsumen rokok akan membeli rokok lain yang harganya terjangkau. “Sedangkan nasib kami bagaimana? Saya juga menjadi tulang punggung keluarga, suami saya juga korban PHK. Kami sangat bergantung kepada pabrik pelintingan tembakau ini,” ujarnya tersedu.

Dia juga meminta agar pemerintah lebih bijak dalam kampanye tentang anti rokok atau anti tembakau. “Saya mohon, tolong perhatikan rakyat kecil, dari tahun ke tahun telah terjadi pengurangan karyawan. Dulu ada 1.500 pekerja, sekarang tinggal tersisa kurang lebih 700 pekerja. Jangan sampai kami di-PHK, karena kebijakan pemerintah yang membunuh tembakau,” katanya.

(Ratna Dewi Amarawati)