Penurunan paling drastis sejak pemerintah memberlakukan gambar mengerikan di bungkus rokok. Itu fenomena paling memukul, sejak 3-4 tahun lalu.

Luar biasa, para wanita ini memiliki keahlian melinting rokok sigeret kretek tangan dengan cara manual. Keahlian melinting itu tentu bukan mendadak bisa. Ternyata mereka melalui proses pelatihan dengan disiplin ketat. Standar kemampuan manusia normal diperkirakan butuh waktu satu tahun. Tetapi orang yang dikategorikan memiliki kelebihan ‘ketangkasan’ keterampilan hanya perlu waktu 3-6 bulan saja.

“Tahapan klasifikasi pekerja dalam pelintingan rokok, yakni pemula, lanjutan, terampil, mahir, baru paling tinggi resmi. Jadi prosesnya, tahap pemula dulu. Mulai diajari dari cara memegang alat pelinting, memasukkan tembakau ke gilingan hingga melatih kecepatan dengan meminimalisasi kesalahan,” terang Wisnu Ponco Legowo, Supervisor Quality Execution (QE, PT Sari Tembakau Harum Jalan Cepiring – Gemuh KM 1 Nomor 9 RT 10 RW 2 Desa Cepiring, Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Dari pemula masuk ke tahap lanjutan, kata dia, biasanya dia bisa mengerjakan hingga 1.200 batang selama 7 jam. Mereka akan terus berlatih kecepatan hingga menyandang gelar pelinting mahir, baru kemudian ditetapkan sebagai pelinting resmi. “Rata-rata bisa sampai ke tahap resmi dibutuhkan waktu hingga satu tahun. Kalau dia mahir dan terampil ada yang hanya tiga hingga enam bulan, sudah bisa sampai ke status resmi. Tergantung keahlian masing-masing,” katanya.

Mulai status magang atau pemula, lanjutan, terampil, mahir, hingga resmi, semua diberikan hak sebagai pekerja sesuai aturan Undang-Undang (UU) Ketenagakerjaan. Dilakukan audit secara rutin, kesehatannya dicek dan diberikan jaminan kesehatan menggunakan BPJS, hak cuti tahunan, cuti haid, dan cuti melahirkan. “Operasional mulai pukul 06.00, hingga pukul 14.00, atau 7 jam kerja dalam sehari. Kalau ada lemburan sampai pukul 15.00 hingga pukul 16.00. Semua karyawan digaji di atas UMR. Itu minimal, lainnya ada yang lebih tinggi sesuai dengan jenjang kariernya,” katanya.

Namun demikian, kata dia, sejak beberapa tahun terakhir kondisi iklim ekonomi dalam bisnis tembakau sedang anjlok. Apalagi setelah pemerintah gencar mengampanyekan iklan rokok membunuhmu, gambar menyeramkan di bungkus rokok dan lain-lain. “Penurunan paling drastis sejak pemerintah memberlakukan gambar mengerikan di bungkus rokok. Itu fenomena paling memukul, sejak 3-4 tahun lalu. Selain itu juga pengaruh cukai naik. Tetapi hal yang paling membuat penurunan sangat drastis sejak adanya larang-larangan dan peringatan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Terjadi drop,” bebernya.

Meskipun produksi menurun, di tempat tersebut tidak pernah terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). “Berkurangnya karyawan ini bukan PHK, tetapi berkurang secara otomatis. Ini kan simbiosis, jam operasional berkurang, otomatis dia yang butuh uang banyak kan tidak bisa bertahan karena pindah kerja,” katanya.

Saat ini, tinggal tersisa 6 kelompok penggilingan, dulu pernah 26 kelompok penggilingan. Sehingga berlipat kali berkurang. Selain itu, 7 kelompok packing, 1 kelompok banderol. “Setiap kelompok terdiri 48 orang. Urutan proses, pertama kali giling, pemotongan, pemeriksaan, kemudian baru masuk ke layer. Kalau super premium ada proses pendinginan dulu menggunakan AC. Baru kemudian dikemas, selongsong, packing, banderol dan kemudian finishing masuk ke box,” katanya.

(Ratna Dewi Amarawati)