“Kalau merokok menyebabkan impotensi, tentu tidak akan ada Megawati,”

Perokok semakin teruji menjadi orang sabar. Tak pernah marah-marah, karena mungkin peran pemarah sudah diambilalih oleh sebagian orang yang tidak suka perokok. Meski telah berjasa menyumbang pajak cukai terbesar untuk negara, keberadaan perokok dikebiri dengan regulasi oleh pemerintah. Dunianya dipersempit dengan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Masih lumayan, mereka memberikan ruang mirip ‘akuarium’ di pojokan.

Pemerintah juga meneror dengan peringatan menyeramkan ‘Rokok Membunuhmu’, ‘Merokok Dapat Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, dan Impotensi’ dan lain-lain. Meski begitu, perokok tetap asyik-asyik aja. Impotensi dari mana, lhawong perokok tetap beranak pinak. Pernah baca meme kocak bikin guling-guling di kasur. Entah tulisannya siapa. “Kalau merokok menyebabkan impotensi, tentu tidak akan ada Megawati,”. Kira-kira begitu.

Saya baru ngeh, sejarah memang menyebut bahwa Mantan Presiden Soekarno memang seorang perokok berat sepanjang hidup. Tentu, ini menghibur sekali karena tudingan impotensi sebagaimana tertulis di setiap bungkus rokok itu tidak mempan sama sekali. Bahkan, konon, Bapak pendiri bangsa itu memiliki sembilan istri yang cantiknya bikin kamu meleleh.

Kembali ke persoalan rokok, negara ini memang aneh dan tidak masuk akal sehat. Logika perlakuan pemerintah terhadap rokok ini juga sangat membingungkan. Pemerintah cenderung tidak konsisten. Di satu sisi sangat jelas memeringatkan “Rokok Membunuhmu”, tapi di sisi lain penjualan diizinkan secara legal alias resmi. Piye kui?

Seharusnya, kalau pemerintah tegas, tutup saja pabrik rokok! Selesai. Persoalannya, pemerintah berani enggak menutup pabrik rokok? Mungkin saja berani, tapi eman-eman akan kehilangan pendapatan pajak. Lhawong muncul fenomena rokok ilegal saja pemerintah kelimpungan, lantas melakukan operasi produk tembakau tanpa cukai agar tidak terjadi kebocoran pajak. Itu namanya kampanye kesehatan menggunakan nalar sakit.

Kalau kita lihat nilai pajak cukai rokok tidak main-main, karena setiap batang rokok terdapat tiga pungutan yang masuk ke pendapatan pemerintah. Pertama cukai, kedua pajak pertambahan nilai, dan ketiga pajak dan retribusi daerah, kurang lebih 60 persen dari harga sebatang rokok. Itung-itungan mudahnya, jika sebungkus rokok harganya Rp 20.000, maka pemerintah bisa mendapat pendapatan Rp 12 ribu.

Tahun 2016 saja, tercatat penerimaan cukai negara mencapai angka 136,5 triliun. Angka tersebut setara dengan 7,5 persen penerimaan negara tahun sebelumnya. Bukan angka yang sedikit, tentu saja. Memang sejak 2013, penerimaan cukai dari sektor hasil tembakau selalu mencapai angka ratusan triliun. Kenaikan penerimaan negara ini tentu saja sangat membantu roda ekonomi pemerintahan.

Meski setiap hari memberikan banyak uang kepada pemerintah, perokok justru diteror lewat jargon-jargon kejam. Di kemasan rokok pun ditakut-takuti menggunakan gambar-gambar mengerikan. Rokok yang memberikan sumber uang ini malah dituding mematikan rakyat. Tapi faktanya enggak ada orang mati karena rokok, kecuali merokok dengan cara menyedot knalpot pabrik.

Sepertinya nalar yang sehat sudah mahal harganya. Pemikirannya sudah kebalik-balik. Produk lain, gula misalnya, ada penelitian yang menyebut kebanyakan gula menyebabkan diabetes. Kalau konsisten, maka gula juga termasuk komoditi berbahaya bagi kesehatan. Tapi mengapa gula tidak sekalian disemati dan diberi gambar mengerikan?

Banyak penelitian bilang bahwa asap kendaraan motor adalah racun yang sangat berbahaya. Tapi penelitian soal itu tak pernah manjadi bahan teror pemerintah “Knalpot Kendaraan Membunuhmu”. Pemerintah membiarkan warganya membeli kendaraan bermotor sebanyak-banyaknya hingga jalanan di kota-kota macet parah. Tidak ada upaya pengendalian pembelian kendaraan. Adanya malah justru program pengendalian tembakau. Petani tembakau akan diarahkan untuk menanam tanaman lain. Tentu ini timpang dan ganjil. Ada apa ini?

Tapi saya percaya, ladang-ladang tembakau akan tetap tumbuh subur dari lereng gunung, kebun, sawah hingga pot-pot kos-kosan. Tuhan menciptakan pohon tembakau bukan untuk membunuhmu. Silakan saja berupaya memusnahkan pohon tembakau. Tapi pasti, Tuhan yang akan menjaga hidup dan matinya pohon tembakau.

(Bayu Arya Gemilang)