“Mengapa semua pelinting di sini adalah perempuan, bukan tidak ada maksud dan tujuan. Ada sentuhan berbeda dibanding dengan tangan laki-laki,”

Sigaret Kretek Tangan (SKT) hanya bisa didapatkan di Indonesia. Lambat laun, keberadaannya tergeser oleh kedatangan Sigaret Kretek Mesin (SKM). Bahkan pasar rokok di Indonesia, kurang lebih 66 persen telah dikuasai oleh Sigaret Kretek Mesin. Sigaret Kretek Tangan hanya memeroleh pasar 26 persen. Sisanya, Sigaret Putih Mesin (SPM) 6 persen, dan 1 persen untuk jenis lain. Data tersebut menurut catatan Kementerian Perindustrian.

Sigaret Kretek Tangan menjadi salah satu rokok yang masih menjaga kualitas dan nilai-nilai tradisi dan budaya di balik proses produksinya. Tidak banyak yang tahu mengapa dalam proses produksi pelintingan sigaret ini ternyata dikerjakan menggunakan tangan para wanita.

Terdapat proses panjang sebelum akhirnya tersaji ke dalam bentuk kemasan yang nyentrik dan elegan. Tak salah, penikmat Sigaret Kretek Tangan ini biasanya berasal dari kalangan yang memiliki karakter kuat serta berlatar belakang nyentrik. Misalnya bangsawan, pejabat, pengusaha, seniman, hingga kiai sepuh yang memiliki ribuan santri. Entah mengapa, biasanya hampir semua penikmat Sigaret Kretek Tangan ini dikonsumsi oleh orang memiliki karakteristik seni kuat. Meskipun tidak semuanya demikian, karena rokok jenis Sigaret Kretek Tangan ini juga dikonsumsi masyarakat di level masyarakat bawah.

Mari coba mengintip apa rahasia di balik proses pelintingan di salah satu Sigaret Kretek Tangan di daerah Kendal Jawa Tengah. Tepatnya PT Sari Tembakau Harum Jalan Cepiring – Gemuh KM 1 Nomor 9 RT 10 RW 2 Desa Cepiring, Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Ternyata betul, tercatat 647 pekerja hampir semua pelinting adalah wanita.

Wanita pelinting profesional mampu menghasilkan sebanyak 2.600 batang lintingan dalam 7 jam kerja sehari. Pekerja untuk menjadi klasifikasi resmi atau profesional membutuhkan waktu cukup lama, yakni kurang lebih 1 tahun. Terkecuali bila ia memiliki keterampilan lebih, bisa hanya perlu waktu 6 bulan berlatih. Sedangkan untuk pelinting magang rata-rata hanya mampu menghasilkan sebanyak 100-200 batang lintingan dalam 7 jam.

“Mengapa semua pelinting di sini adalah perempuan, bukan tidak ada maksud dan tujuan. Ada sentuhan berbeda dibanding dengan tangan laki-laki. Secara psikologi, perempuan lebih teliti, jeli, tekun, rapi, terampil dan telaten. Tidak mbolosan seperti lelaki,” kata Wisnu Ponco Legowo, Supervisor Quality Execution (QE).

Termasuk mengapa memertahankan konsep Sigaret Kretek Tangan, padahal sekarang era teknologi mesin dan robot. Pertama, adalah upaya memertahankan dan menjaga kualitas. Lintingan manual ada bagian yang tidak bisa didapatkan dengan menggunakan mesin. “Tembakau jatuh di lantai tidak boleh digunakan. Itu diperhatikan betul oleh pelinting. Itu sudah menjadi bagian dari standar operasional prosedur. Melalui proses pemeriksaan secara berlapis-lapis. Kualitas rasa dan aroma diperhatikan betul. Agar konsumen tidak kecewa. Maka Sigaret Kretek Tangan ini ada perlakuan khusus. Itu menjadi salah satu sebab mengapa harga Dji Sam Soe mahal. Sedotannya tetap enteng, aroma khas dan lain-lain. Rasanya konsisten dan seterusnya. Di sini, kami mengerjakan Dji Sam Soe Premium, Dji Sam Soe biasa, Sampoerna Hijau, dan Panamas Kuning,” terang dia.

Proses pelintingan tetap dilakukan secara manual menggunakan tangan manusia. Tidak menggunakan mesin. Alasan tetap menggunakan tenaga manusia karena bisnis ini tidak semata-mata mencari untung belaka. Tetapi ada nilai sosial, tradisi, budaya, yang harus bermanfaat bagi masyarakat sekitar. “Menyerap tenaga kerja yang banyak sekali. Sehingga keberadaan pabrik bermanfaat bagi masyarakat. Sebenarnya, jika mau, produksi pelintingan bisa menggunakan 3 mesin dan 5-6 orang operator sudah cukup. Tapi hal itu tidak akan dilakukan,” katanya.

Di Jawa Timur, ada jenis pabrik yang menggunakan sistem Sigaret Kretek Mesin (SKM). Mungkin secara efesiensi, mereka lebih efisien. Tetapi mereka tidak mengenal budaya dan tradisi kemasyarakatan. “Kalau pakai mesin bentuk rokoknya berbeda, dari ujung ke ujung rata. Kalau manual tidak. Tetapi prinsip Sigaret Kretek Tangan ini berbagi rejeki dengan masyarakat. Silaka diteliti, mengapa pula lokasi pabrik-pabrik sistem Sigeret Kretek Tangan tersebar di daerah-daerah pinggiran? Itu semua ada maksud dan tujuan. Sehingga produksi tidak dilakukan secara terpusat agar merata dan dekat dengan rakyat. Yang mendoakan banyak orang dari masyarakat kecil. Ini yang dipertahankan,” katanya.

(Ratna Dewi Amarawati)