Ratusan tahun, penjelajah dari berbagai negara Eropa, Tiongkok, Jepang, Timur Tengah dan lain-lain berebut masuk di daratan nusantara. Mereka tertarik mendarat dan menetap di daerah penghasil rempah-rempah ini. Bahkan hingga sekarang, jejak sejarah pendatang dari negeri seberang tetap menguasai simpul-simpul perdagangan.

Jejak deretan bangunan kuno peninggalan masa lalu di kawasan Kota Lama dan Pecinan Semarang hanyalah menjadi salah satu bukti kecil. Masing-masing bangunan menyimpan sejarah panjang yang tak semua diketahui oleh generasi sekarang. Baik bangunan yang sampai sekarang dihuni oleh generasi penerusnya, maupun bangunan yang mangkrak tak bertuan.

Mampir di salah satu bangunan yang terletak di depan gerbang kawasan Pecinan Semarang, tepatnya di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2A Kranggan Semarang saja, akan ditemukan sejarah panjang. Bangunan tersebut merupakan toko tembakau yang berdiri sejak 1895 silam. Bahkan sampai sekarang masih eksis beroperasi.

Toko tembakau tersebut merupakan jejak peninggalan sosok pendatang bernama Yap Kay Tjay, seorang pemburu tembakau asal Tiongkok. Dilihat dari usianya, toko tembakau yang dikenal dengan sebutan “Mukti” itu bisa dibilang tertua di Kota Semarang, bahkan (mungkin) tertua di Indonesia.

Konon, Yap Kay Tjay datang pertama kali mendarat di pelabuhan Surabaya. Ia kemudian menelusuri daratan Jawa untuk mencari beraneka ragam tembakau nusantara. Dari Surabaya, ia menyusuri bukit-bukit, sawah, gunung, seperti Madura, Bojonegoro, Paiton, Kasturi, hingga di daerah Jawa Tengah seperti Mranggen, Weleri, Temanggung, Boyolali, Muntilan, Wonosobo, dan Garut Jawa Barat.

Bahkan ia menembus lautan hingga Lombok, Sopeng dan Toraja Sulawesi Selatan, Sumatera, dan lain-lain. Di manapun singgah, Yap Kay Tjay mencicipi tembakau. Bahkan hampir semua jenis tembaku nusantara ia jajal. Dalam penjelajahannya, ia kemudian mempersunting istri, salah satu selir Raja Cirebon, sebelum akhirnya diboyong untuk tinggal di Semarang.

Menjadi pemburu tembakau, ia mampu mengumpulkan dan membeli berbagai jenis tembakau dari berbagai pelosok nusantara. Ia percaya bahwa Indonesia merupakan salah satu negara penghasil tembakau terbesar dan dipercaya memiliki kualitas terbaik di dunia. Tetapi diperlukan pengetahuan dan cara mengelola tanaman tembakau dari proses menanam hingga panen. “Tembakau indonesia sangat luar biasa. Hampir di setiap daerah memiliki karakteristik dan rasa berbeda,” kata Kusuma Atmaja Agung, 69, merupakan pewaris Yap Kay Tjay, generasi ketiga.

Yap Kay Tjay terbilang seorang pengusaha ulet yang merintis jaringan dari bawah, yakni petani tembakau.
Pasca Yap Kay Tjay meninggal, usaha tembakau tersebut diwariskan kepada anaknya, Bram Mukti Agung, ayah kandung Agung. “Saya mengelola sejak tahun 1968, hingga sekarang kurang lebih telah 49 tahun. Yang meneruskan hanya saya. Usaha ini warisan turun-temurun. Bahkan semua jaringan petani tembakau di berbagai daerah juga turun-temurun,” katanya.

Agung menjadi pewaris yang hingga sekarang masih konsisten menekuni dunia tembakau. Menurutnya, pengolahan tembakau memiliki proses panjang dan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. “Sebab, setiap produk tembakau hasil panen dari petani tidak bisa langsung dijual atau dikonsumsi. Melainkan harus melalui proses penimbunan terlebih dahulu,” ungkapnya.

Usai tembakau dipanen oleh petani, tembakau yang berkualitas harus melalui proses ‘peram’ (penimbunan) minimal dua tahun, baru bisa dikonsumsi atau dipasarkan. “Dua tahun itu waktu peram minimal. Bahkan ada yang 5, 6, 7, 8, hingga 9 tahun. Pada prinsipnya, semakin lama ditimbun, maka tembakau semakin harum. Tentunya, harganya semakin mahal. Kami punya tembakau ‘garangan’ yang telah diperam selama 19 tahun. Harga sekilonya mencapai Rp 2,5 juta,” katanya.
Tembakau yang telah diperam selama 19 tahun tersebut dikategorikan sebagai tembakau tua yang cukup langka. “Toko Mukti ini didirikan oleh kakek saya, Yap Kay Tjay, pada 1895. Saya punya dokumennya,” ungkap Agung.

Jaringan tembakau tersebut, kata Agung, terjalin secara turun temurun. Ia meneruskan jaringan kakeknya, Yap Kay Tjay yang sejak dahulu bekerja sama dengan para petani di berbagai daerah. Seperti di lereng Gunung Sumbing dan Sindoro, jaringan petani tembakau di seluruh Indonesia. “Petaninya juga turun temurun mewariskan ke anak cucunya. Kami saling percaya, karena orang kuno dulu konsisten dan saling percaya,” katanya.

Berbagai macam jenis tembakau lintas daerah itu kemudian dilakukan proses peram atau penimbunan di pabrik pengolahan tembakau di daerah Weleri Kendal. Selain, menjual tembakau eceran, ia juga menyuplai tembakau ke sejumlah pabrik rokok. Termasuk memroduksi tembakau cerutu berbagai variasi rasa. “Usaha ini akan teruskan oleh anak saya, Kasigit Agung, sebagai generasi keempat,” katanya. (Ratna Dewi Amarawati)