Kampanye antirokok yang sangat masif terhadap bahaya merokok dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya memberi dampak negatif terhadap petani tembakau di Indonesia, tetapi kini juga berdampak terhadap petani cengkeh. 

Hal ini disampaikan oleh Sekjen Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI) Ketut Budiman. Menurutnya, para petani cengkeh dan tembakau merasa terguncang akibat survei dari seorang akademisi yang dipublikasikan secara meluas. Survei tersebut menyebutkan untuk mencegah orang merokok, harga rokok bisa dinaikkan hingga Rp50 ribu per bungkus. 

“Publikasi rekomendasi seorang profesor itu menyebabkan menurunnya omzet baik cengkeh maupun tembakau di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Budiman, rokok itu mempekerjakan sekitar 6 juta tenaga kerja orang di Indonesia. Belum lagi dari sektor cengkeh yang juga mempekerjakan jutaan orang di Indonesia yang menyebar di berbagai provinsi. 

“Semestinya pemerintah itu selalu bekerja untuk kesejahteraan rakyatnya. Data menunjukkan bahwa ada sekitar lebih dari 60% orang Indonesia itu hidup dari sektor pertanian dan nelayan. Bila mampu membuat petani dan nelayan itu sejahtera saja, maka sejahteralah Indonesia secara keseluruhan karena petani tembakau dan cengkeh ada di dalamnya. Sisanya itu pengusaha, PN dan sebagainya,” ujarnya.

Namun kondisi di Indonesia terbalik. Kontribusi dari cukai rokok misalnya mampun menyumbang sekitar Rp170 triliun lebih per tahun atau sekitar 10% dari APBN. Data ini berbanding terbalik dengan pendapatan dari Freeport yang sering menguras energi pemerintah ternyata hanya menyumbang sekitar tidak lebih dari Rp30 trilun per tahun. 

Anehnya, tanaman cengkeh sebagai penyumbang bahan baku utama produk rokok kretek Indonesia tidak mendapatkan atensi serius dari pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan dibukannya kran impor cengkeh yang dilakukan oleh pemerintah sehingga menyebabkan cengkeh produksi asli Indonesia tidak terserap dengan baik.

Ia mengatakan, cengkeh itu bahan baku utama yang produk rokok kretek Indonesia yang juga menjadi penyumbang cukai terbesar. Dengan dibukanya kran impor cengkeh, petani cengkeh di Indonesia tidak bisa melakukan barganing harga dengan pabrik rokok kretek. Akibat lainnya harga cengkeh Indonesia tidak bisa bersaing dengan cengkeh impor. 

Secara keseluruhan, produksi cengkeh Indonesia itu mencapai lebih dari 110 ribu ton permusim. Sementara kebutuhan untuk pabrik rokok hanya berkisar antara 90 ribu sampai 100 ribu ton. Masih ada stok sekitar 10 ton. Jumlah ini mungkin jauh lebih banyak bila berhadapan dengan panen besar. 

“Bagaimana mungkin Indonesia membuka impor, sementara produksi dalam negeri sangat mencukupi. Saat ini Indonesia merupakan penghasil cengkeh terbesar di dunia dan juga kualitas nomor satu di dunia. Kenapa harus impor,” ujarnya. 

Berbeda dengan produksi tembakau. Kebutuhan dalam negeri sebanyak 350 ribu ton sampai 400 ribu ton. Sementara produksi dalam negeri hanya mencapai 176 ribu ton. Saat ini tembakau harus diimpor dari Tiongkok, India dan Turki.***