Febri Fatma Lailatul Laeli, sejak kecil selalu bercita-cita menjadi dokter. Keinginannya menjadi dokter selaku ia pegang erat dan tidak pernah berubah hingga ia duduk di bangku SMA. Alasan Eli tertarik menjadi dokter karena profesi ini dinilainya sangat mulia.

Sampai akhirnya, ia resmi menyandang status mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jember. Dibalik upayanya, ada sekelumit kisah yang menarik. Eli, saat memilih kuliah di kedokteran sempat ragu dan tak ingin melanjutkan pilihannya.

“Awalnya sempat ragu juga dengan masalah biaya,” ujarnya dilansir dari laman resmi Universitas Jember.

Siapa kira, justru orangtuanya yang sangat mendukung Eli. Sang ayah juga aktif mencari informasi biaya kuliah kepada para petugas kesehatan, kenalan, bahkan kepada kakak kelas Eli yang sudah kuliah.

“Maklum kemampuan kami terbatas sehingga harus benar-benar berhitung. Dukungan orang tua dan beasiswa Bidikmisi membuat saya yakin bisa kuliah,” tutur Eli.

Eli adalah putri kedua dari pasangan Suyono yang seorang petani, dan ibunya bernama Surip hanyalah Ibu rumah tangga. Mereka tinggal di desa Kesilir, Wuluhan, Jember.

Demi memenuhi kehidupan sehari-hari, sang ayah menyewa lahan seluas kurang lebih 180 meter persegi untuk ditanami padi di musim hujan. Jika musim kemarau tiba, ayahnya memutar roda ekonomi dengan menanam jagung.

Terkadang juga mengadu keberuntungan dengan menanam tembakau. Jika sedang tak mampu menyewa lahan, Suyono menjadi buruh tani.

Eli tahu jika biaya Fakultas Kedokteran tidak sedikit. Apalagi, Eli mengikuti seleksi masuk kedokteran melalui Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri ( SBMPTN).

Prestasi Eli yang memuaskan selama bersekolah di SMAN Ambulu Jember membuatnya dipercaya mendapatkan beasiswa Bidikmisi pada 2016 (sekarang KIP Kuliah). Ia berhasil masuk ke Universitas Jember melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Untuk itu, ia mencoba mendaftar Bidik Misi dan lolos. Tentu Eli tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Bagaimanapun caranya, Eli harus membuktikan jika mahasiswa sepertinya sangat layak mengejar mimpi.

Tentu saja Eli bisa meraihnya. Selama ini, Eli memang terkenal pintar dan rajin. Eli juga langganan menempati peringkat pertama secara paralel di sekolahnya. Kala mengikuti SBMPTN, Eli mantap memilih Unej sebagai pilihan, dengan Fakultas Kedokteran sebagai pilihan pertama disusul Fakultas Kedokteran Gigi sebagai pilihan selanjutnya. Kedua pilihan tadi didukung penuh orang tuanya.

Selama kuliah, Ia rajin membaca catatan kuliah dan buku yang direkomendasikan oleh dosen, selain berdiskusi dengan sesama kawan di kampus.

“Biasanya saya belajar di dini hari menjelang salat subuh agar lebih konsentrasi, berusaha belajar sungguh-sungguh supaya harapan orang tua agar saya jadi dokter terwujud, apalagi belum ada warga desa kami yang jadi dokter,” ungkap Eli.

Kesibukan menjalani kuliah, tidak menjadikan Eli lupa membantu orang tua. Setiap kali ada kesempatan pulang ke desanya Eli turun langsung membantu orang tuanya di lahan. Jika saat panen tiba, Eli tak malu ikut memanen padi atau jagung.

“Jika Bapak sedang menanam tembakau, maka saya ikut memetik tembakau di pagi hari, kemudian diteruskan di sorenya dengan mempersiapkan tembakau untuk proses dikeringkan, atau dalam istilah di desa kami disebut sujen. Sementara jika belum panen, saya membantu Bapak ikut membersihkan rumput dan gulma di sawah,” cerita Eli, yang bercita-cita menjadi dokter spesialis anak ini.

Meski membagi waktu antara keluarga dan kuliah tentu berat bagi seorang Eli, namun Eli ternyata masih menyempatkan waktu untuk mengikuti lomba.

Misalnya, menjadi juara pertama literatur review bidang kedokteran yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Kemudian, meraih juara ketiga karya ilmiah poster bidang kedokteran yang digelar oleh Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Kedua prestasi itu dicapai pada 2018.

Eli juga aktif di organisasi mahasiswa yang berfokus pada penelitian. Lebih istimewa lagi, Eli berhasil menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Kedokteran dalam jangka waktu 4 tahun 1 bulan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sangat memuaskan, yakni 3,71.

“Agak meleset sedikit dari target saya yang ingin menyelesaikan kuliah sebelum empat tahun,” ungkapnya.

Eli sendiri memiliki minat pada Agromedis. Yakni aplikasi ilmu kedokteran yang berfokus pada kesehatan masyarakat pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan. Dirinya mengenal betul jika masyarakat agraris memiliki permasalahan kesehatannya sendiri yang berbeda dengan komunitas lain.

Kebetulan, Eli berasal dari keluarga petani, sehingga tahu permasalahan kesehatan yang dihadapi petani. Termasuk, belum tumbuhnya kesadaran di kalangan petani untuk menggunakan pelindung dalam bekerja di lahan.

“Semoga ilmu yang sudah saya terima di bangku kuliah dapat saya sumbangkan untuk kemaslahatan petani, paling tidak untuk warga desa saya,” ujarnya.

Kini, Eli bersama 1.045 mahasiswa Unej telah menjalani proses wisuda pada periode II tahun akademik 2020/2021. Rasa bangga tak bisa terbendung, meski proses wisuda dilakukan secara daring.

“Alhamdulillah, tahapan perkuliahan di Fakultas Kedokteran telah saya lalui dengan baik, tinggal mengikuti pendidikan profesi. Semoga juga diberi kelancaran agar cita-cita saya menjadi dokter dapat terwujud,” ungkap Eli.

Eli berpesan kepada adik kelasnya yang berasal dari keluarga kurang mampu untuk tidak putus asa dalam usaha meraih cita-cita. Sebab, jika ada kemauan pasti akan ada jalan, prinsip yang dia pegang dan sudah dijalani.

“Apapun keadaanmu, jangan takut untuk memiliki dan mewujudkan cita-cita, harus percaya diri, gali passion masing-masing serta selalu berprasangka baik kepada Tuhan, Insya Allah akan selalu ada jalan,” ungkap dia.

Sementara itu, Rektor Universitas Jember Iwan Taruna mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam gelaran wisuda Universitas Jember untuk kali pertama di tahun 2021 ini. Ia mengucapkan selamat sekaligus berharap segenap keluarga besar UNJ tetap optimis menatap masa depan.

“Saya yakin berbagai tantangan yang muncul karena pandemi Covid-19, justru akan melahirkan lulusan Universitas Jember yang tangguh, adaptif, kreatif dan inovatif,” tutur Iwan.

Sumber: Kompas.com