Siapa yang tak mengenal tembakau Deli. Tembakau tersebut sejak zaman kolonial telah termasyur ke seluruh dunia dengan kelebihannya, membawa nama Sumatera Utara sebagai salah satu sentra produksi tembakau berkualitas di Indonesia. Namun petani di provinsi ini masih terkendala dengan ketersediaan benih bersertifikat.

Data Dinas Perkebunan Sumut, tahun 2017 Sumut hanya bisa menghasilkan produksi sebanyak 1.483,01 ton dengan luasan 2.012,80 hektare. Tembakau masih dikelola oleh perkebunan rakyat dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Saat ini, perkebunan rakyat mencatatkan luasan di atas PTP yakni 1.652 hektare dengan produksi sebanyak 1.319,15 ton. Sementara luasan kebun tembakau PTPN adalah 360,8 hektare dengan produksi 163,86 ton.

Kepala Dinas Perkebunan Sumatera Utara, Herawaty,  Senin (4/3/2019) mengatakan bahwa saat ini perkebunan tembakau memang didominasi oleh perkebunan milik rakyat. Namun demikian diakuinya, produktifitasnya masih harus ditingkatkan. Untuk mendukung itu maka petani harus mendapatkan benih yang bersertifikat sehingga pertumbuhannya bisa lebih baik.

Beberapa waktu lalu, Kepala Seksi Pengembangan Kawasan Rempah dan Tanaman Semusim Lain, Dirjen Perkebunan RI, Ronald Evan Zigler di Medan mengatakan bahwa di  Indonesia terdapat 18 provinsi penghasil tembakau, di antaranya Sumut, Aceh, Palembang, Sumatera Barat, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan lainnya.

Jawa Tengah, Jawa Timur dan NTB adalah tiga provinsi sentra produksi tembakau jenis virginia.  Tembakau Virginia yang ditanam petani di Sumut menurutnya masih sedikit. Sementara itu pemerintah memiliki target produksi 70 persen dari total impor atau 132.000 ton. Dan untuk mencapai target tersebut pemerintah membuat rencana jangka pendek, menengah dan panjang.

“Itu sampai tahun 2024. Makanya kita perlu pemetaan provinsi mana saja yang pernah ada histori penanaman Virginia,” katanya.

Sumatera Utara, dulu terkenal dengan tembakau Deli. Seiring waktu, masyarakat mulai berganti komoditas. Di satu sisi petani kehilangan pasar, sisi lainnya kebijakan pemerintah kurang mendukung. Namun Dirjen Perkebunan sangat berkepentingan untuk melestarikannya.

Selain tembakau Deli, ada tembakau jenis Virginia dan Burley yang banyak ditanam petani. Namun petani masih mengembangkan benih secara turun temurun. Tidak diketahui generasi (F) ke berapa. Bukan dari benih yang bersertifikat. Petani tembakau harus mendapatkan pembinaan dan pendampingan baik dari Dinas Perkebunan atau dari Penyuluh.

Menurutnya, peran dari mitra seperti PT STTC juga dibutuhkan karena mereka yang mengetahui standar kualitas seperti apa yang dibutuhkan dan diterima oleh pasar. “Kita di bidang regulasi, bagaimana tembakau dipertahankan. Khususnya tembakau heritage. Begini, ini terkait kebiasaan petani. Tak semua pemerintah berikan full paket. Hanya berisi stimulan (rangsangan) ke petani bagaimana nanti ada tanggung jawab petani bagaimana menambah stimulan,” katanya.

Menurutnya, hal yang sangat penting dalam benih bersertifikat yang masih terbatas. Pihaknya berharap setiap provinsi atau kabupaten sentra produksi tembakau memiliki kebun benih unggul lokal yang dijalankan sesuai pedoman pembangunan sumber benih. Kalau sudah ada dengan kriteria tertentu, dapat ditetapkan sebagai sumber benih lokal dengan SK Dirjen Perkebunan RI.

“Sebagai jaminan benihnya bisa dan bisa diedarkan. Selama ini mereka tanam entah dari F ke berapa yang ditanam berulang lagi. Otomatis mudah diserang penyakit,” katanya.

Kepala Bidang Produksi Dinas Perkebunan Sumut, Lies Handayani Siregar mengatakan, sentra produksi tembakau Sumut berada di Dairi,  Humbang Hasundutan, Karo Tapanuli Utara dan Simalungun. Jenis Burley paling banyak ditanam petani di Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara dan Dairi. Sumut sampai saat ini belum memiliki penyedia benih tembakau bersertifikat. Benih yang ditanam petani diseleksi sendiri oleh petani sendiri tanpa melalui uji mutu benih.

“Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) Malang menyarankan pembangunan benih tembakau berkualitas dan bersertifikat untuk mengejar produktifitas,” katanya.***

Sumber: KabarMedan