Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah (Jateng) memang menjadi daerah yang memiliki objek wisata dengan pemandangan sejuk. Salah satunya adalah di Candi Sari, Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo.

Di Kawasan wisata itu, pengunjung dapat menikmati kesejukan dan keindahan hamparan hijau tanaman tembakau. Pada Maret hingga September, tembakau akan menjadi tanaman yang menjadi andalan perkebunan di wilayah Cepogo, termasuk di Gedangan.

Hampir di setiap kebun yang ada di sepanjang jalur menuju Candi Sari, atau di kebun-kebun lain yang ada di Desa Gedangan, akan terlihat tanaman berdaun lebar, bahan baku pembuatan rokok tersebut.

Jika berkunjung di kawasan wisata di Boyolali tersebut pada masa panen tembakau, Anda akan bisa menyaksikan pemandangan aktivitas petani tembakau dalam mengolah hasil bumi mereka.

Salah satunya adalah Maryono, petani tembakau warga Gedangan, yang sudah sejak pagi berada di kebun tembakaunya. Dia menceritakan, setiap pagi setiap harinya, ia selalu menyempatkan diri untuk menengok kebun tembakaunya, sebelum menjalankan lain.

Maryono sudah cukup lama bertani tembakau. Bahkan tanaman tembakau sudah menjadi tanaman wajib bagi para petani yang memiliki perkebunan di lereng Gunung Merapi.

Saat itu, dirinya tengah merawat tanaman tembakaunya. Biasanya sebelum memasuki masa panen, para petani harus memastikan tanaman tembakaunya bisa tumbuh dan memiliki kualitas prima.

Aktivitas petani saat memetik daun yang tidak dibutuhkan, memberi obat tanaman tembakau, membersihkan lahan tembakau, akan menjadi pemandangan yang bisa didapatkan di kawasan wisata menuju Candi Sari Boyolali. Di wilayah Cepogo, setidaknya ada lima desa yang menjadi penghasil tembakau.

“Dari 15 desa, yang cocok untuk tembakau maksimal ada lima desa, yakni Jombong, Wonodoyo, Sukabumi, Gedangan dan Genting. Untuk lainnya bisa namun tidak maksimal,” tuturnya dia saat ditemui Solopos.com di kebunnya, belum lama ini.

Saat ini, tanaman tembakau yang ada di sekitaran Candi Sari masih berusia sekitar tiga bulan. Masa panen akan tiba mulai Agustus hingga September nanti.

“Saat panen, tentu aktivitas pengolahan akan berlangsung sepanjang hari. Mulai pemetikan, pengeringan hingga perajangan,” lanjut dia.

Tugu Tembakau
Bahkan untuk menguatkan wilayah lereng Merapi-Merbabu sebagai penghasil tembakau, di wilayah Cepogo juga berdiri tugu tembakau. Letaknya ada di tepi jalan utama Boyolali-Selo, tepatnya di Dukuh Candi Petak, Desa Genting, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali. Dari tugu tembakau itu, juga bisa disaksikan hamparan tembakau yang ditanam di bukit-bukit saat masa tanam.

Pada Maret-September, tembakau menjadi tanaman andalan di wilayah Cepogo. Sebab saat musim kemarau, hanya tanaman tembakau yang dinilai bisa bertahan hidup. Sedangkan saat tanaman tembakau sudah dipanen, petani akan menanam tanaman lain, yakni bawang merah.

“Setelah September, nanti mulai bawang merah. Bawang merah itu November tanam, 75 hari akan panen. Setelah itu selang satu bulan tanam lagi. Setelah panen kedua langsung tembakau,” kata petani tembakau lain, Sutar.

Saat itu Sutar sesang memberi obat pada pangkal batang daun tembakaunya. Satu per satu pangkal batang daun tembakau dia kucuri dengan cairan khusus. Tujuannya agar tidak tumbuh daun-daun kecil yang akan mengurangi kualitas daun utama tembakau.

Meski belum memasuki masa panen secara keseluruhan, pemandangan para petani menjemur daun tembakau di kanan kiri menuju kawasan wisata Candi Sari Boyolali juga sudah tampak.

Daun yang dijemur adalah daun yang paling bawah. Cara penjemurannya tidak dengan dirajang dulu, namun dijemur satu daun utuh atau dikenal dengan istilah didendeng.

Di depan rumah warga, dibuat perancah dari bambu, untuk mengaitkan daun-daun tembakau yang didendeng tersebut.

Sungguh adem rasanya menikmati pemandangan para petani mengolah tembakau. Jika pandemic Covid-19 sudah berakhir, Kawasan wisata lereng Merapi di Boyolali memang sepatutnya kita explore. (sumber: solopos)