Budi Rahardjo salah satu dosen yang memiliki banyak keahlian alias multitalent. Tidak hanya sebagai pengajar di Sekolah Tinggi Elektrto dan Informatika (STEI) dan Sekolah Bisnis Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB), Budi juga seorang ahli IT, penulis, peneliti, pembicara, konsultan information security, blogger dan musisi.  

Tak hanya itu, Budi juga seorang entrepreneur atawa pengusaha. Keahliannya di bidang IT, ditambah dengan kemampuan berwirausaha, membuat Budi menjadi seorang technopreneur, yaitu seseorang yang menjalankan usaha di bidang teknologi.

Budi bukan sekali-dua kali mendirikan perusahaan. Sebut saja PT Riset Kecerdasan Buatan, Digital Beat Store, ID-CERT, dan PT. Insan Infonesia. Dan ia juga seorang investor di perusahaan-perusahaan start up. Namun dari sekian perusahaan yang dia bikin atau investasikan, hanya sedikit yang sukses.

Penyebab kegagalannya tersebut biasanya karena kekurangan SDM atau idenya lebih cepat 10 tahun sehingga belum memiliki pasar. Tapi kegagalan-kegagalan ini tak membuatnya kapok dalam berwirausaha.

Penyuka genre musik rock itu tetap menciptakan barang, mencari investor, dan mencoba memasarkannya. Alasan kuat ia tetap bertahan, itu karena Budi memiliki prinsip It’s not about the money.

“Saya ingin ada sesuatu yang saya kontribusikan, sesuatu yang saya buat, yang berguna untuk memecahkan masalah. I want to make a dent in this universe,” ujar Budi, yang berbagi tips di pada Studium Generale Rabu (31/1/2019) lalu di ITB, seperti dikutip dari siaran pers ITB.

Dalam kesempatan tersebut, Budi berbagi pengalaman dalam membangun perusahaannya kepada 700 mahasiswa ITB.

Tips yang ia berikan kepada mahasiswa yang ingin menjadi seorang entrepreneur meliputi, pertama, jika belum tahu ingin menciptakan apa, menjual apa, mulailah dari pemikiran ‘masalah apa yang harus saya pecahkan?’.

Kedua, ajaklah rekan-rekan yang memiliki visi yang sama. Karena jika berbeda visi, perusahaan tidak akan berjalan lurus. Ketiga, harus menganalisis kebutuhan pasar. Terakhir, berusaha dan pantang menyerah. “Yang namanya gagal itu pasti ada,” katanya.“Gagal itu boleh, dimaafkan. Yang tidak boleh adalah berbuat curang,” ujarnya. Di penghujung acara, ia tampil menghimbur peserta Studium Generale dengan menyanyikan lagu ‘We Are the Champion’ ciptaan Queen, sambil diiringi musik gitar dari anaknya. [Iman]