Obesitas alias penyakit berat badan berlebih menjadi masalah kesehatan yang serius. Penyakit ini dapat mengundang masalah kesehatan lain seperti diabetes, jantung, hipertensi atau darah tinggi dan lain-lain.

Dunia medis tak tinggal diam dalam mencari masalah kegemukan. Salah satunya yang kini menjadi tren dunia, yaitu operasi pemotongan lambung pasien yang disebut bedah bariatrik.

Dokter spesialis bedah digestif Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr Reno Rudiman, Sp.KBD, menjelaskan operasi bariatrik bertujuan mengurangi nafsu makan pasien obesitas. Cara ini dinilai paling efektif dalam mengatasi penyakit obesitas.

Operasi ini berupaya memotong lambung pasien sampai tinggal seperempatnya. Model pembedahan dilakukan secara laparaskopi, tidak dilakukan pembedahan secara besar. Teknik laparaskopi ini cukup membuat lubang kecil di bagian tubuh untuk melakukan pemotongan lambung.

“Secara teknis mudah. Lambung normal 2/3 sebelahnya dibuang, sehingga lambung tinggal lurus saja,” katanya seraya menunjukkan gambar lambung seperti yang biasa ditunjukkan dalam iklan obat mag. Setelah dipotong, bentuk lambung akan mengecil mirip usus biasa, cuma ukurannya lebih besar.

Operasi bariatrik akan turut membuang sensor lapar (ghrelin) yang ada pada lambung. Ghrelin berupa serabut saraf dan hormon yang berfungsi mengirimkan sinyal lapar ke otak.

Namun, Indonesia agak ketinggalan di bidang operasi pemotongan lambung sebagai terapi pengobatan obesitas. Padahal di negara lain, operasi ini sudah biasa dilakukan.  

“Perkembangannya ini sedang pesat di berbagai negara. Indonesia sebenarnya termasuk agak ketinggalan dibandingkan negara Asia lainnya seperti di Taiwan, Korea, Singapura, itu sudah banyak. Bahkan di Taiwan ada rumah sakit khusus bedah bariatrik, dari berbagai negara datang untuk operasi ini. Saya pun belajar di situ,” tutur Reno.

Tren operasi bariatrik terjadi sejak 3-5 tahun ke belakang. Reno mulai melakukan operasi ini sejak 2015. Saat ini rumah sakit di Indonesia yang bisa menangani operasi bariatrik antara lain RSHS, rumah sakit swasta di Bandung, dan beberapa di Jakarta.

Menurutnya, Indonesia tertinggal bukan karena masalah teknis atau kesulitan melakukan operasi, melainkan karena biaya operasinya yang mahal. Operasi ini membutuhkan alat pemotong khusus yang didatangkan dari luar negeri (impor). Alat ini hanya sekali pakai.

Biaya operasinya saja mencapai Rp50 juta, di rumah sakti swasta bisa mencapai Rp100 juta. Kemungkinan lain, warga Indonesia masih awam dengan operasi ini. Sehingga mereka takut mendengar operasi pemotongan lambung.

“Padahal kita menjalankan itu dengan Teknik pembenahan laparoskopi, dengan hanya 4 lubang saja, kemudian biasanya nyeri pascabedahnya sangat minimal. Dua tiga hari pascabedah itu bisa sudah bisa pulang, cepat,” katanya.

Dari sisi etika, operasi ini sudah terbukti secara ilmiah dan disetujui secara internasional sebagai terapi untuk mengobati diabetes.

“Beberapa tahun lalu di AS kemenkesnya mencanangkan obesitas sebagai suatu penyakit bukan suatu keadaan, jadi memang harus diterapi, terapinya salah satunya dengan pembedahan,” terangnya.

Saat ini, RSHS sudah melakukan sedikitnya dua kali bedah bariatrik. Petama pada pasien obesitas Aria Permana yang semula bobotnya mencapai 200 kilogram. Berat badan Aria kini di angka 80 kilogram. Pasien kedua ialah yang baru dirawat awal Februari ini, Sunarti (39), yang bobornya 150 kilogram. Sunarti juga direncanakan akan menjalani operasi bariatrik. [Iman]