Daerah Blora memiliki segudang seni, budaya, tradisi yang khas, termasuk salah satunya seni musik gamelan. Gamelan menjadi alat musik yang tak pernah absen dari pertunjukan-pertunjukan khas Blora, seperti barongan, tayub, jathilan, kethoprak, dan juga wayang. Gamelan menjadi icon penting di Blora yang harus dilestarikan kepada generasi muda.

Pada acara Anjangsana Kebudayaan tanggal 15 Agustus 2018, Blora sempat dijadikan tempat destinasi dalam roadshow International Gamelan Festival (IGF) yang dihadiri sejumlah praktisi kebudayaan dan seniman dari berbagai negara. Acara tersebut sebagai sarana mempererat dan melihat perkembangan gamelan, sekaligus meningkatkan potensi seni, budaya dan tradisi daerah.

Kunjungan tersebut membuktikan bahwa Blora sudah menjadi daerah yang terkenal akan alat musik gamelannya.

Disamping itu, masyarakat Blora mayoritas beragama Islam, data terakhir dari Badan Pusat Statistik Jawa Tengah sebanyak 1.238.647 orang memeluk Islam dari jumlah keseluruhan penduduk adalah 1.251.987 orang. Oleh karena itu, gamelan selain berkembang mewarnai kebudayaan Blora juga perlu di akulturasikan ke budaya Islam. Akulturasi tersebut guna memperkaya khasanah pengetahuan, identitas Islam di Blora, menyiarkan Islam, serta menginovasi musik gamelan yang sudah eksis sebelumnya serta mengislamisasi budaya Blora (gamelan).

Awal mula gamelan, sebelum masuknya Islam di Jawa

Pada masa setelah masuknya Hindu Budha, berkembanglah musik- musik istana (khususnya di Jawa). Saat itu, musik tidak hanya dipakai sebagai bagian ritual saja, tetapi juga dalam kegiatan-kegiatan keistanaan (sebagai sarana hiburan para tamu raja). Musik istana yang berkembang adalah musik gamelan. Musik gamelan terdiri dari 5 kelompok, yaitu kelompok balungan, kelompok blimbingan, kelompok pencon, kelompok kendang dan kelompok pelengkap.

Kemunculan gamelan didahului dengan budaya Hindu-Budha yang mendominasi Indonesia pada awal masa pencatatan sejarah, yang juga mewakili seni asli Indonesia. Instrumennya dikembangkan hingga bentuknya sampai seperti sekarang ini pada zaman Kerajaan Majapahit.

Dalam perbedaannya dengan musik India, satu-satunya dampak ke-India-an dalam musik gamelan adalah bagaimana cara menyanikannya. Dalam mitologi Jawa, gamelan dicipatakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka, dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana di gunung Mahendra di Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu). Sang Hyang Guru pertama-tama menciptakan gong untuk memanggil para dewa. Untuk pesan yang lebih spesifik kemudian menciptakan dua gong, lalu akhirnya terbentuk set gamelan. Jadi pada jaman dahulu gamelan tersebut dibuat dan digunakan untuk berkomunikasi dan untuk memanggil dewa-dewa lainnya. Akan tetapi agar bisa menyampaikan pesan yang lebih khusus akhirnya.

Fungsi gamelan dalam kegiatan upacara ritual Hindu, kata Wayan Sueca, merupakan salah satu unsur dari Panca Swara. Sehingga gamelan memiliki arti yang sangat besar dalam upacara ritual tersebut. Kehadiran gamelan dalam kegiatan ritual diyakini mampu menghadirkan vibrasi tertentu. Dalam sabdanya Hyang Bagawan Naradha kepada seluruh umat manusia untuk mencapai moksartam jagatdhita ya caiti dharma lewat seni bunyi-bunyian. ”Gamelan yang mengiringi upacara sering kali mampu memberikan suasana lain terutama dalam hubungannya dengan yang ‘di atas’. Dengan kata lain gamelan yang dipakai dalam kegiatan keagamaan tidak bisa dipandang sebagai pelengkap saja”.

Gamelan pada awalnya tidaklah lengkap seperti sekarang ini, pada relief candi perangkat-perangkat gamelan hanyalah permainan tiga sampai sekitar belasan saja. Fungsi utama gamelan dalam religi Hindu dan Buddha adalah untuk upacara keagamaan dan penetapan sima. Sima adalah upacara berkaitan dengan pembangunan tempat suci, pembangunan pemeliharaan tempat suci maupun anugerah tanah dari raja kepada rakyatnya.

Munculnya pengaruh Islam dalam gamelan Jawa

Gamelan untuk Ritual Islam dimulai dari awal abad XV setelah kerajaan Majapahit runtuh maka digantikan dengan kerajaan Demak di bawah pemerintahan Raden Patah dan bergelar Sultan Syah Alam Akbar. Sejak zaman kuno, Hindu-Budha selalu ada upacara kerajaan yang disebut Rojowedo, upacara kebijaksanaan raja, upacara keselamatan kerajaan bersama seluruh rakyatnya. Namun segala tradisi upacara, sesaji yang bernuansa Hindu dilarang diadakan oleh pemerintah Raden Patah.

Raden Patah adalah Raja Demak pertama yang beragama Islam setelah mengalahkan Majapahit dibawah kekuasaan Raja Brawijaya V yang bergama Hindu. Setelah bertahun-tahun memerintah, tidak ada perkembangan agama Islam yang memadai di wilayah bekas kerajaan Majapahit yang Hindu tersebut.

Selanjutnya Raden Patah mengumpulkan para ulama Islam di antaranya para Wali. Selanjutnya salah satu Wali yaitu Sunan Kalijaga mengusulkan agar melangsungkan upacara keselamatan kerajaan yang beragama Hindu itu di perkenankan diadakan lagi namun diberi muatan secara Islam. Raden Mas Sajid menuliskan sebagai berikut:

Terjemahan: Naliko semanten para wali sami kalempakaken ing Masjid Demak perlu musawarah bab anggenipun sami badhe mencaraken agami Islam. Warni-warni usulan para wali, miturut pemanggihipun piyambak-piyambak. Ing wekasan putusaning rembag ingkang dipun sarujuki pemanggihipun Kanjeng Sunan Kalijaga Inggih puniko: (1) Karamean wau kangge mengeti dinten wiyosipun Kanjeng Nabi Muhamad, (2) Karemean puniko mangen dateng in Masjid Ageng dangunipun seminggu,.. (3) Ing sajawining masjid, inggih puniko alun-alun dipun wonteni tetingalan.. Wayang kulit ingkang isi carios bab kawruh Islam, kadosto carios Dewo Ruci. Joged Topeng engkang isi carios Islam Terbangan Kentrung lan sanesipun ( Sajid, 1984: 1).

Gamelan upacara yang sengaja ukurannya sangat besar-besar yang digunakan dalam kerajaan Majapahit Hindu secara turun temurun, digunakan juga oleh Sunan Kalijaga. Penggunaan gamelan pada saat itu dlaksanakan pada upacara sekaten (memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW). Demikian pula tanda-tanda upacara kerajaan jaman Majapahit dengan memasang Janur kuning, umbul-umbul warna merah putih yang disebut gulo klopo dan warna hijau kuning yang disebut pare anom dan segala atribut upacara kerajaan Hindu digunakan. Inilah taktik Sunan Kalijaga. Jadi, struktur baku ratusan tahun yang ada di rakyatnya masih digunakan, namun diberi warna sedikit yaitu warna Islami.

Akulturasi gamelan Jawa dengan Islam, serta munculnya budaya baru dalam bidang seni musik gamelan.

Gamelan yang pada awalnya digunakan sebagai iringan penyembahan roh-roh halus pada zaman Hindu Buddha di akulturasikan ke dalam Islam. Setelah runtuhnya Majapahit, muncullah masa keemasan kerajaan Islam di Demak yang dipimpin oleh Raden Patah. Dengan adanya walisongo yaitu oleh Sunan Kalijaga gamelan dihidupkan kembali dengan nuansa Islam. Gamelan tidak untuk tujuan syirik, akan tetapi sebagai iringan perayaan sekaten peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Gamelan tersebut dinamakan sebagai Gamelan Sekaten yang terdiri dari dua perangkat yang dinamai Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogo Wilogo diletakkan di sebelah selatan dan sebelah utara Masjid Agung. Walaupun tidak seluruh rakyat yang hadir dalam upacara itu seluruhnya masuk Islam namun setidaknya ada penambahan jumlah rakyatnya yang masuk Islam. Karena ada pula mereka yang masih kuat kepercayaan Hindu Buddha nya.

Pada waktu itu lalu ada undang-undang Negara bahwa cara demikian (sekaten) diadakan setiap tahun dijatuhkan pada tanggal lima sampai tanggal duabelas (bulan) Maulud, tujuh hari lamanya. Kemauan Sang Raja sedemikian itu diterapkan dengan tatanan (perhitungan waktu) Budha hari tujuh pekan (pasaran) lima bulan duabelas, lagi pula disesuaikan dengan tatanan Budha lainnya (Soelarto, 1993: 15).

Semenjak saat itu hingga sekarang pada saat perayaan menyongsong kelahiran Nabi Muhamad SAW diadakanlah perayaan Garebeg Sekaten dengan diperdengarkan dua perangkat gamelan peninggalan jaman kerajaan Majapahit atau duplikasinya bagi kerajaan di Jawa.

Gamelan merupakan sarana untuk menarik perhatian masyarakat. Setelah masyarakat berdatangan di Masjid Hageng Kraton, kemudian para ulama bertugas memberikan ajaran-ajaran Islam. Selain itu gamelan juga merupakan sarana bagi para ulama untuk menjelaskan pandangan-pandangan yang keliru tentang keprecayaan mistik, kepercayaan terhadap roh-roh halus, kekuatan magis serta sebagaian agama Jawa yang tidak sesuai dengan ajaran-ajaran syari at Islam (Pradoko, 1995: 105).

Pada saat ini, Upacara Sekaten tidak terlepas dari penggunaan gamelan. Seperti yang masih eksis saat ini pada pelaksanaan Sekaten, baik yang ada di Yogyakarta maupun Surakarta selalu tidak bisa dilepaskan dari perangkat Gamelan milik kedua keraton tersebut. Selain itu, sekarang ini gamelan juga digunakan sebagai iringan lagu lagu religi, dikolaborasikan dengan musik modern ataupun musik islami. Jadi, kesimpulannya gamelan tidak lagi digunakan untuk keperluan menyembah roh-roh halus atau benda yang dianggap memiliki kekuatan, akan tetapi untuk memeriahkan acara umat muslim (peringatan kelahiran nabi). Gamelan digunakan pula sekedar untuk melestarikan kebudayaan jawa seperti untuk mengiringi tarian-tarian adat. Hal yang demikian, berarti gamelan sudah diakulturasikan ke dalam budaya Islam, supaya tidak dimanfaatkan untuk keperluan syirik.

Perlunya akulturasi seni (gamelan) di Blora dengan budaya Islam
Mayoritas masyarakat Blora beragama Islam. Sedangkan gamelan di Blora hanya menjadi iringan seni budaya kejawen. Supaya masyarakat Islam di Blora lebih mengenal gamelan dari perspektif mereka (Islam), maka alangkah baiknya dikolaborasikan ke budaya Islam. Akulturasi budaya Jawa dan Islam dari gamelan tersebut dapat dijadikan sebagai sarana penanaman nilai-nilai Islam ke dalam masyarakat Jawa. Masyarakat Blora yang beragama Islam lebih mengenal Islam tanpa meninggalkan budaya dari seni musik Jawa. Dengan kata lain, akulturasi budaya menjadi pola penguatan Islam agar mengakar di kalangan penduduk Blora.

Selain hal tersebut diatas, islamisasi gamelan dapat digunakan sebagai media dakwah, sehingga ajaran-ajaran Islam tersampaikan ke khalayak dan menarik mereka untuk memeluk Islam.

Wujud akulturasi gamelan dapat berkaca dari gamelan sekaten yang dibunyikan pada acara Grebeg Mulud di Yogyakarta dan Surakarta yang rutin dilakukan setiap tahunnya. Gamelan dapat digunakan untuk menarik masyarakat untuk datang megikuti kegiatan yang bernuansa Islam seperti shalawatan peringatan maulid nabi dan dakwah, sebagaimana yang penulis jelaskan pada bagian akulturasi gamelan Jawa dengan Islam, serta munculnya budaya baru dalam bidang seni musik gamelan.

Meminjam pernyataan dari Cak Nur yang dilansir dari tempo.co bahwa perangkat budaya adalah bentuk investasi masa depan bagi umat Islam Indonesia dalam menghadapi dinamika keberagamaan yang penuh warna. Perangkat budaya ini merupakan sumber etik moral dan pijakan kultural bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dari pertanyaan tersebut dapat diambil kesimpulan supaya masyarakat Islam di Blora tidak kehilangan kultur di masa depan, yang mana nantinya masyarakat diwarnai polemik keberagamaan. Budaya Blora dapat dijadikan identitas atau pijakan dalam menyiarkan Islam.

Penulis: Endang Paniati, tinggal di Desa Patalan, Kec. Blora, Kab. Blora, Jawa Tengah.*