Mulai bulan ini, beberapa daerah di Trenggalek tengah panen raya cengkeh. Panen raya berlangsung hingga sekitar bulan Agustus. Setiap musim panen cengkeh, ekonomi warga membaik.

Sebuah pohon cengkeh tumbuh gagah di halaman rumah Gunari (40), warga Desa Ngulungwetan, Kecamatan Munjungan. Buah cengkeh tampak merekah di ujung ranting-ranting pohon itu. Gunari pun tampak antusias menceritakan hasil dari satu pohon yang ditanam di depan rumah itu.

“Ini sekitar 90 kilogram lebih (cengkeh basah),” kata Gunari.

Harga cengkeh di tingkat petani di Trenggalek saat musim panen sekarang sedang kurang bersahabat. Cengkeh basah dipatok di harga sekitar Rp 26.000 per kilogram (kg). Sementara cengkeh kering sekitar Rp 80.000 per kg. Pernah, harga cengkeh kering menembus angka di atas Rp 120.000 per kg beberapa tahun lalu.

Dengan hitung-hitungan itu, Gunari setidaknya bisa memperoleh lebih dari Rp 2 juta untuk satu pohon cengkeh besar di depan rumahnya. Padahal, ia juga memanen banyak pohon lain di area hutan lahan milik perhutani.

Bagi Gunari dan warga lain yang menanam cengkeh, musim panen raya adalah tahun baik. Cengkeh, terang dia, hanya bisa dipanen saban 2-3 tahun sekali. Di luar musim itu, warga mengandalkan pemasukan dari pekerjaan lain. Mulai dari petani tanaman lainnya, hingga nelayan.

Ketika musim panen seperti ini, anggota keluarga yang lain turut membantu mengurus cengkeh. Di dalam rumah Gunari, ibu-ibu tampak memilih buah cengkeh sebelum di jemur. Gunari pun banyak menghabiskan waktu untuk memanen cengkeh di waktu seperti ini.

Cerita serupa juga disampaikan Basri (48), petani cengkeh lain di kecamatan Munjungan. Menurut dia, harga cengkeh tahun ini memang tak terlalu tinggi. Namun, nilai jual itu sudah sangat membantu pengeluaran keluarga. Terutama menjelang musim Lebaran.

“Tapi semua dari cengkeh bisa dijual. Daunnya itu bisa dijual untuk bahan minyak cengkeh. Harganya sekitar Rp 3.000 per kg,” ujarnya.

Meski tak mahal, pendapatan dari menjual daun cengkeh bisa menambah nilai ekonomi bagi Basri dan petani lain.

Saat ini, Kecamatan Munjungan menjadi salah satu daerah penghasil cengkeh terbesar di Trenggalek. Selain wilayah ini, ada juga wilayah Kecamatan Watulimo yang juga banyak didapati tanaman cengkeh.

“Tapi sekarang paling banyak, ya, di Munjungan ini,” kata Camat Munjungan, Rudianto.

Lebih dari separuh warga di Kecamatan Munjungan, kata dia, merupakan petani cengkeh pada musimnya. Hal itu juga bisa dilihat momen-momen panen raya. Di setiap halaman rumah warga sepanjang jalan menuju pusat kota, hampir selalu didapati jemuran buah cengkeh.

“Warga yang tak butuh uang cepat biasanya memilih menjual dalam bentuk kering. Karena lebih mahal tadi. Meskipun, secara bobot, cengkeh kering dan cengkeh basah itu 1 banding 3,” tuturnya.

Rudianto berkata, setiap musim panen cengkeh, warga di Munjungan cenderung lebih konsumtif. Ia menjelaskan, di daerah pusat kecamatan, akan banyak toko-toko pakaian yang buka ketika musim panen raya cengkeh tiba. Warga yang selama ini tinggal di daerah atas akan turun untuk membelanjakan uangnya.
Kondisi itu semakin ramai saat musim menjelang Lebaran.

“Itu kalau mau lihat, di pasar dekat kecamatan, semua toko pakaian ramai mulai beberapa pekan terakhir,” tutur dia. ***

Sumber: Surya