Wacana pemerintah melarang adanya iklan rokok di internet membuat para petani tembakau resah.

Koordinator Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) Muhammad Nur Azami menyebut, isu ini bisa berpengaruh terhadap penghasilan para petani tembakau.

“Isu di hilir ini bisa berdampak juga di hulunya, terutama di teman-teman petani tembakau,” ucapnya di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo), Jalan Medan Merdeka Barat, Gambir, Jakarta Pusat.

Terlebih, petani tembakau akan memasukin masa panen pada bulan Agustus hingga Oktober mendatang.

Ia mencontohkan, para petani tembakau pernah mengalami kerugian yang sangat besar akibat isu hoaks yang sempat beredar pada tahun 2015 lalu soal harga rokok yang menyentuh angka Rp 50 ribu.

“Tahun 2015 lalu saat isu hoaks rokok Rp 50 ribu, petani tembakau dicurangi oleh para tengkulak,” ujarnya.

Ia mencontohkan kejadian yang terjadi di daerah Temanggung, Jawa Tengah saat isu tersebut berkembang luas.

Saat itu, ia menyebut salah satu pabrik rokok mengurangi jumlah tembakau yang biasa mereka beli dari 6.000 ton menjadi hanya 4.000 ton.

Lalu, situasi ini pun dimanfaatkan oleh para tengkulak untuk meraup untung dengan menakut-nakuti petani bahwa tembakaunya tidak laku dan menawarnya dengan harga sangat murah.

“Wajarnya perkilogram ini Rp 30 ribu sampai Rp 80 ribu, tapi karena isu itu mereka menjual grade paling bagus seharga Rp 40 ribu,” kata dia.

“Bahkan ada yang jual sampai Rp 15 ribu per kilonya,” tambahnya.

Kekhawatiran para petani tembakau inilah yang menurutnya tidak dipikirkan oleh Kementerian Kesehatan dan Kemenkominfo.

“Ini yang selama ini tidak dipikirkan karena memang saat ini isu ini mulai berpengaruh ke psikologi para petani tembakau,” ucapnya.***

Sumber: Tribunnews