Dari kejauhan sudah tampak toples-toples besar dengan nama dan harga yang ditulis dengan tulisan tangan. Jika didekati, gradasi warna cokelat tembakau dalam toples-toples itu tampak makin jelas, wangi khasnya pun menguar, bercampur dengan aroma rempah-rempah campuran tembakau.

Toko Tembakau dan Cerutu Wiwaha  telah melayani kebutuhan tembakau warga Yogya selama hampir satu abad, dan kini dikelola secara bersama oleh menantu, cucu, dan cicit dari sang pendiri toko. Berada di Jl. Pangeran Diponegoro No.4, mereka menjual 23 jenis tembakau, 15 jenis cerutu, dan 35 merk rokok produksi pabrik.

Toko ini didirikan oleh Hyiap Ho Tiek, dan kini pengelolaannya dipimpin oleh Setyawati, menantunya. Menurut Setyawati, pembeli tembakau curah untuk rokok lintingan di Yogyakarta tidak pernah surut.

“Pelanggan di sini bervariasi, tapi kebanyakan generasi tua, usia 40 tahun ke atas. Kalau pelanggan yang lebih tua lagi, usia 60 tahun ke atas, biasanya khusus, suka tembakau dari daerah tertentu. Tembakau dari Temanggung yang paling banyak dicari,” kata Steven, cucu Setyawati.

Sebagai penjaga toko yang sehari-hari melayani konsumen, Steven kelak akan melanjutkan posisi orang tua dan neneknya mengelola Toko Wiwaha. Ia mengaku tidak merokok, tapi ia ahli mengenali tembakau dari aroma, tekstur, dan campurannya.

Setyawati (78), menantu dari Hyiap Ho Tik, pendiri Toko Wiwaha. Ia kini mengelola toko bersama anak dan cucunya. [WargaJogja.Net]

Steven mengatakan, banyak pelanggan usia muda, yakni 20 hingga 40 tahun, yang mulai mencoba membeli tembakau dan melinting rokok sendiri, beralih dari rokok produksi pabrik.

Salah satunya Hendra. Ia mengaku ini kali pertama ia mencoba rokok yang bukan produksi pabrik. Ia memutuskan untuk langsung membeli semua perlengkapan di Toko Wiwaha, mulai dari alat linting, filter, hingga kertas rokok.

“Saya disarankan mencoba tembakau Gudang Garam Spesial karena biasanya rokok saya Gudang Garam. Rasanya mirip, enak, hanya kurang kuat saja,” katanya.

Lain halnya dengan Agus. Ia sudah tiga bulan merokok linting dengan tembakau yang sama, yaitu merek Dji Sam Soe. “Awalnya karena mau lebih irit saja. Tapi ternyata tembakau curah Dji Sam Soe ini lebih enak daripada yang produksi pabrik. Lebih halus, tidak membuat saya sakit tenggorokan dan batuk-batuk,” kata Agus.

Agus biasanya membeli stok 2 ons tembakau untuk konsumsi selama 2 minggu. Ia pun selalu membeli tembakaunya dari Toko Wiwaha, tidak pernah ke tempat lain.

Dari semua jenis tembakau di Toko Wiwaha, yang paling unik diambil dari Paiton, Jawa Timur, karena rasanya manis dan halus, tetapi tetap kuat. Sedangkan yang menjadi favorit pelanggan adalah tembakau Mole dari Jawa Tengah.

Keunikan lain dari toko ini adalah tersedianya rokok-rokok pabrik yang jarang beredar di toko pada umumnya. Toko Wiwaha menyediakan rokok buatan pabrik-pabrik kecil dengan merk seperti Sukun, Grendel, Lodjie, Bengawan Solo, yang dijual dengan harga mulai dari Rp 4.000 per bungkus isi 12 batang.***

Sumber: Warga Jogja