Petani tembakau di Lombok, Nusa Tenggara Barat optimistis, harga jual tembakau di musim tanam 2019 akan lebih baik.

Keyakinan tersebut mempertimbangkan kondisi cuaca yang sangat mendukung, bagi pertumbuhan tembakau. “Selama cuaca mendukung seperti sekarang, pertumbuhan dan kualitas daun tembakau dipastikan akan sangat bagus, sehingga dipastikan akan berpengaruh terhadap harga jual tembakau yang mahal juga, baik daun tembakau basah maupun tembakau kering yang telah diomprong,” kata Herman, petani tembakau Lombok Tengah, Senin (1/7/2019).

Cuaca bagus yang dimaksud, adalah ketika memasuki musim kemarau, masih ada hujan turun satu hingga dua kali. Hujan dengan intensitas kecil, membantu pertumbuhan tembakau menjadi lebih cepat besar dan subur. Hujan yang turun satu hingga dua kali, tidak membahayakan pertumbuhan. Air hujan bisa membuat daun tembakau menguning dan tanaman akan mati akibat suhu tanah terlalu dingin.

“Tembakau termasuk jenis tanaman yang proses penanamannya gampang-gampang sulit, gampang ditanam, mudah hidup dan tidak membutuhkan terlalu banyak air, tapi sebaliknya kalau kebanyakan air dan suhu tanah terlalu dingin, bisa mengakibatkan tanaman tembakau mati,” jelasnya.

Haeriah, petani tembakau lain mengatakan, meski ada isu harga tembakau di musim tanam 2019 akan lebih murah dibandingkan 2018. Dia meyakini, selama cuaca mendukung, harga tembakau akan tetap mahal. “Kalau mendengar dari petani lain, katanya harga tembakau sekarang ini akan murah, sempat hawatir, tapi kami yakin, kalau kualitas daun tembakau bagus, pasti akan dibeli mahal,” tandasnya.

Haeriah menyebut, meski ada isu harga tembakau akan murah, tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap menanam tembakau di seluruh areal sawah miliknya. Tembakau, telah menjadi tanaman rutin yang ditanam setiap memasuki musim kemarau.

Tembakau dianggap lebih menguntungkan dibandingkan tanaman lain seperti tanaman palawija. “Sudah biasa tanam tembakau, mengalami kerugian juga sudah beberapa kali, tapi tidak kapok, karena mendapatkan keuntungan juga lebih sering, dan itulah resiko jadi petani tembakau,” tandasnya.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia  (APTI) Provinsi NTB, Sahminuddin, memproyeksikan petani tembakau Virginia di 2019 akan mengalami kerugian hingga Rp400 miliar lebih. Angka itu terbentuk dari menurunnya kuota pembelian tembakau oleh perusahaan mitra.

Di 2019, APTI memperkirakan lebih dari 10.000 ton tembakau petani tak bisa terbeli.  Jika dikalikan dengan harga Rp42.000 per-kilogram, (Kg) sesuai harga tahun lalu, terakumulasi kerugian mencapai lebih dari Rp400 miliar.***

Sumber: Cendananews